Pages

Saturday, September 17, 2016

KITAB PEMBUKA KUNCI RAHSIA ILMU MA'RIFAT

Tahapan manusia/tingkatan manusia  ..dari yang paling rendah menuju insan kamil/peribadi yang sempurna untuk mencapai kehidupan sempurna.

1.Nafsu amarah

Nafsu amarah adalah tingkatan terendah peribadi manusia..selayaknya haiwan ia tidak tau baik buruk semua yang di kerjakan tanpa rasa bersalah ...tanpa penyesalan ...sehingga sering di ketegori ini ia seperti haiwan bahkan ada yang lebih buruk di banding haiwan.

2. Nafsu Lawamah

Nafsu lawamah/jiwa yang menyesal/jiwa yang tertipu ...ialah kategori manusia yang sudah tau baik buruk tapi masih juga melakukan keburukan meskipun akhirnya menyesal. Tentu ini lebih baik dari yang pertama.

3. Nafsu Malhamah

Nafsu malhamah ialah kategori manusia yang sudah berada di tahap taqwa ...secara sya'ri...ia sudah melakukan segala kebaikan dan menjauhi segala keburukan ....namun jiwanya belum tenang/menyesal...kerana mereka masih belum percaya dengan jaminan allah/belum mau pasrah, masih mengandaikan ikthiarnya...sehingga sering ia mengeluh ....apakah masih kurang usahaku...mungkin usahaku kurang sungguh2...padahal semua sudah kukerjakan ...aku sudah solat...aku sudah taat tp mengapa aku masih begini ya allah/..dan sebagainya. Tentu digolongan ke 3 ini sudah merupakan orang yang pilihan..taqwa..patuh...secara sya'ri..tp jiwanya masih mengeluh...

Seterusnya...memang ini proses dari yang paling rendah menuju yang paling mulia...jadi yang merasa pintar
dan sudah ma'rifat tidak perlu ini buat belajar..untuk meraih cinta allah sehingga dapat mencapai peningkatan diri...ditahap ke 3 inilah tingkatan orang2 yang taqwa ..merasa sempurna...tapi ternyata ia belum dapat tenang/jiwanya gelisah..hatinya resah...meskipun merasa sudah di lakukan semua yang ada dalam aturan tapi ia belum juga berhasil menjauhkan jiwanya menuju ketenangan.

Sebagai contoh, seorang tokoh masyarakat yang di hormati hafal Qur'an dan hadis ...tp masih terbatas syar'i...belum tau makna yang terkandung di dalam setiap permasaalahan yang ia hadapi sehingga selalu mengeluh ...ia diam tp hatinya memberontak...diam tapi hatinya marah...ia mengira itulah sabar itulah tabah...sesungguhnya yang disebut sabar bukanlah diam dan bukanlah mengeluh/menjerit tapi sabar adalah menjalani kesulitan dengan senyuman/senang hati.

Begitupun yang di sebut tabah bukanlah diam tapi hatinya mencela dan memberontak...bukan diam tapi hati menjerit dan memaki ...tabah adalah menjalani segala musibah dengan senyuman/senang hati.
mengapa di tahap ini jiwanya belum dapat ketenangan ...kerana ia belum percaya dengan jaminan allah...ia belum yakin dengan jaminan allah terhadap orang yang pasrah....ia belum bisa pasrah...ia belum bisa pasrah...ia dengan menggunakan dalil allah tidak akan merubah nasib sesuatu kaum itu kecuali kaum itu sendiri...mengira dalil ini adalah dalil untuk memerintahkan manusia mencari rezeki...yang sesungguhnya tidak demikian..
Allah menjamin orang yag mau pasrah kepadanya...dalam surat ibrahim ayat 3..."Barang siapa berserah diri kepadaku niscaya kupenuhi seluruh kebutuhannya dari arah yang tidak di sangka2...janji allah/jaminan allah pastilah benar adanya...
Rezeki, jodoh ajal maut...apapun yang terjadi kepadamu sesungguhnya telah allah tuliskan/tetapkan dalam lahful mahfud sebelum kelahiranmu...tidak akan menambah ketaatan seseorang akan rezekinya..juga tidak akan mengurangi rezeki seseorang akan kedurhakaannya..al hadis.
Hari ini engaku makan apa di mana dengan siapa juga bertemu dengan siapa...bicara apa ..adalah sesuatu yang sudah tertulis dalam lahful mahfud.
 Ia percaya ..bahawa allah kuasa atas segala sesuatu...tp ia tidak percaya kalau allah akan mendatangkan rezekinya langsung turun dari langit..dengan berdalih memang rezeki dari allah tapi mana mungkin rezeki turun dari langit...ayampun harus mengorek2 tanah dulu untuk dapat makan..katanya..dengan seribu alasan ia tidak yakin akan jaminan allah ini.
Yakin akan jaminan allah inilah yang disebut iman/percaya dengan jaminan allah inilah juga iman..meskipun begitu jika di katakan ia tidak beriman astilah ia marah2...balik cerita mengkafirkan atau menyesatkan orang yang memberikan peringatan kepadanya/mengingatkannya..

Selanjutnya...bagi orang yang telah yakin dengan jaminan allah ini maka akan merasa tenteram dalam jaminan allah maka ialah pemilik iman...kerana itulah syarat iman adalah pasrah..meskipun mengaku iman jika tidak pasrah...maka itu hanya mengaku sahaja/bohong/kosong...di sebut sebagai orang munafik...lain di mulut lain di hati..mulutnya bekata iman tapi hatinya tidak tenteram/khuatir was2..sedih dan lain-lain.

Maka dari itu tentu sahaja setelah mengalami perjuangan tuk melawan gejolak jiwanya orang yang dapat mencapai titik yakin terhadap apa yang di imaninya..setelah melebur ego setalah mengalahkan bahkan mematikan nafsunya..ia baru dapat menang melawan gejolak jiwanya..maka masuklah ia ketahab berikutnya...

4.Nafsu Mutmaimanah/jiwa yang tenang

Nafsu mutmaimanah ini hanya dapat di masuki oleh orang yang dapat mengalahkan segala gejolak jiwanya...mematikan nafsunya maka di sebut sebagai alam barzah...mati sebelumnya mati/meninggal...mati dalam hidup...seperti yang di huraikan sebelumnya bahawa syarat iman adalah pasrah..islam adalah pasrah muslim hakekatnya hanyalah orang2 yang beserah diri kepada allah /pasrah kepada allah ..meskipun bersahadad jika tidak pasrah maka ia bukan muslim.Hanya mengaku sahaja, maka samalah ertinya munafik.
Pesan oleh Sheih abdul khodir jailani ...iman tanpa pasrah adalah bohong/kosong..kerana itu iman manusia bersaf2,bertingka2..ada yang percaya tap tidak yakin ..ada yang yakin seyakin-yakinnya ..sehingga ainul yakin dan haqul yakin.

Untuk mencapai titik ainul yakin dan haqul yakin tentulah kita memerlukan pembuktian diri...setelah mengalami sendiri..dan di uji berkali2 maka orang itu barulah dapat yakin denga ainul yakin haqul yakin..benar2 mendarah daging dalam dirinya.

Dalam hidupnya ..apapun yang ia terima menyadari sebagai pelaksana kehendak tuhan sahaja..ia relakan dan yakini pastikan dalam kebaikan tuhannya..meskipun nampak sebagai musibah ataupun masaalah ia berusaha mensyukurinya ..alhamdulillah..meskipun trkadang air mata tidak bisa di bendung tetapi berusaha kasih senyum di dalam hati ya sebagai sembahyangnya pada sang maha berkehendak...maka masuklah ia ke tahap berikutnya...

Alam Melakut/Alam Malaikat

Dengan mensifati dirinya dengan sifat2 malaikat..masuk ketahap seterusnya..

5. Nafsu Rodiah/Jiwa yang rido

Sebagai hasil setiap permasaalahan dan musibah yang di alami ..dengan selalu baik sangka allah tumbuhkan hikmah kedalam hatinya..maka semakin cemerlanglah jiwanya...hingga tembus ke alam malaikat/melakut...mesyukuri apapun yang allah kehendakkan kepadanya...jangankan sesuatu yang ia suka/anugerah sesuatu yang ia tidak suka bahkan sangat tidak sukai/masaalah juga musibah ia terima dengan senyuman...contoh..dalam kehidupan sehari2 yang paling sederhana ketika ia tiba2 di tampar oang...ia tidak membalasnya..tp malah ia minta maaf pada yang menamparnya..kerana allah...ia menyadari betul kalimat lailaha ilallah...tidak ada tuhan melainkan allah, tidak akan terjadi akan sesuatu melainkan kehendak allah juga yang menggerakkannya.

Meyakini bahawa allah adalah satu2nya penggerak dalam setiap gerak dalam hidup ini juga di manapun apapun bilapun..kerena itulah allah di sebut tuhan.
 maka ia terima tamparan itu sebagai tamparan allah....hanya sahaja melalui tidakkan orang itu sebagainya....maka ia minta maaf pada yang menamparnya...setelah ia sholat/mengontrol hati/melihat hati...sebagai sujudnya dan berikan senyum sebagai sebahyangnya..dengan ucapan astagfirulloh hal adim...he...he..he...jika allah tidak mengendaki apapun yang terjadi pastilah tamparan itu tidak sampai kepadanya...maka itu adalah kehendak allah....tentu ada yang salah..maka segera minta maaf pada yang menamparnya..seandainya ia tidak salah sama sekali seperti nabi muhammad ketika di hunus pedang kepadanya ia tidak membalas malah mendoakannya..maka allah akan memuliakannya...

Jesteru itulah yang mengangkat derajadnya..menuju peribadi yang semakin sempurna..meraih reda allah..kerana selalu reda terhadap apapun yang allah kehendakkan kepadanya.

Allah reda jika kita reda...manusia hanya dapat masuk syurga kerena reda allah..bukan kerana ibadahnya...sedangkan reda adalah senyuman hatimu kala menerima musibah juga masaalah2..dan hakekat sembah adalah senyuman hatimu/rasa syukurmu/rasa persetujuanmu pada apapun yang allah kehendakkan kepadamu...maka masuklah ia ketahap berikutnya Smamin  Menuu kesempurnaan diri...kelangit yang lebih atas lagi tahap seterusnya...

6. Nafsu mardiah...jiwa yang reda allah...

Karena ia redo maka allah pun reda ..maka di turunkan malaikat 7 penjuru untuk melayani jiwa yang di redai allah ini...alhamdulillah ..di penihi segala kebutuhannya dari berbagai arah yang tidak ia sangka2 seperti jaminan allah dalam surat ibrahim ayat 3..tadi..hatinya semakin berbunga dan syukur...hatinya semakin cinta kepada tuhannya...setiap apapun yang datang kepadanya tidak peduli anugerah atau musibah jadi hikmah yang membawa berkah...sedih bahagia adalah sama..suka duka adalah sama...suka duka dalam hidup ini tidak membutakannya sehingga tidak membedakannya..seperti matahari dalam pemberian ...dan seperti samudera dalam penerimaan ..alhamdulillah...
Maka semakin hari semakin besar cintanya kepada tuhannya yang melimpahkan rahmat baginya...ia semakin tenggelam dalam rasa cinta yang luar biasa...sehingga tidak bisa lupa dari tuhan nya selalu mengingat dan menyebut nama tuhannya dalam jiwanya dalam semua perbuatannya bahkan juga saat tidurnya ..selalu terjaga dengan cinta dan zikirnya..

Ketika hatinya di penuhi rasa cinta....maka sang maha cinta/ allah tuhannya ..menyapanya langsung tanpa perantara...menemuinya ..memperkenakan diri kepadanya...berkatalah tuhan kepadanya...aAKU ADALAH ALLAH..sehingga..ia mengenal tuhannya..mengenal seapa dirinya..sebagai seorang yang tau diri bahawa ia hanyalah pelaksana kehendak allah sahaja...menyadari bhawa ia hanyalah adunan seumpama kuih dicetak yang di cetak sesuai dengan cetakkannya...membuatnya terkejut,takut,terkesima...gementar dan menggigil...

Menerima sesuatu yang tidak pernah terfikirkan olehnya...dengan sejuta tanya dalam jiwanya...merenungi apa yang terjadi..dan kemudian ia mengingat qur'an dan hadis yang mengabarkan apa yang di alaminya...
Kemudian ia menjadi sedar bahawa itulah kebenaran...maka masuklah ia ke tahap seterusnya..

7. Nafsu Kamilah sebagai insan kamil/Peribadi yang sempurna

Maka masuklah ia ke alam Tauhid alam ketuhanan...alam kesesaan/alam tunggal...alhamdulillah...
Tentu sahaja syarat mutlah untuk memasukinya adalah tauhid sempurna...hanya yang benar2bertauhid yang dapat memasukinya...kerana masuk dalam istana kesucian maka hanya yang benar2 suci yang bisa memasukinya...dengan rasa cinta ..dengan penuh cinta...menyatu dalam rasa..bagai bunga dan wanginya...bagai madu dan manisnya...tidak terpisah..meskipun manis bukanlah madu..dan wangi bukan lah bunga..2 yang berbeda tapi tidak terpisah...alhamdulillah...

Berbahagialah ia ..di lihatnya namanya tertulis di langit...sebagai tanda..pengumuman dari allah..inilah hambaku yang tlah ku Merdekakan/Maksum penuh rasa syukur dan sujud...iapun rasa syukur dan sujud..ia pun melihat namanya tertulis di lahful amhfud...diantara nama tuhannya..dengan sifat yang tuhan anuerahkan kepadannya...maka diberitahukan kepadanya segala apa yang selama ini menjadi rahsia..dan benar jika di katakan jika engkau mengenal tuhanmu maka akan engkau kenal pula selainmu/seluruhnya..

hanya yang mengenal dirinya yang tau tuhannya..dan hanya hati yang di penuhi dasa cinta yang bisa melihat tuhannya...dan perlu digaris untuk di bawa ..begitu juga... memasuki alam tauhid maka sesunguhnya yang melihat dan yang dilihat adalah satu juga...dan ianya allah adalah zat yang suka memuji diri sendiri.
Ia mulai tau bahawa ..tuhannya memang tidak jauh dari dirinya sendiri..dan ia jadi mengerti kenapa orang2 menyebut sang maha tunggal/ahad/allah sebagai sang DIRI sang AKU.

Kemudian ia mulai membaca Qur'an ...setelah ia mendapatkan Qur'an..tentunya yang di baca adalah al Furqon...dalam ayat tauhid.Allahu lailaha illahuwa..dan seterusnya...yang makna sesungguhnya maka allah di sebut sang kebenaran /al haq....

Ia jadi mengerti ternyata semua agama adalah sama..semua agama adalah benar datangnya dari tuhan yang sama yang di sembah juga sama hanya penyebutannya sahaja yang berbeza ..pengaruh dari bahasa yang berbeza...alhamdulillah..






 
 






MENEMBUS DIMENSI MA'RIFAT KETUHANAN

7JUDUL ASLI:KIMIAU ASSA'ADAH
PENGARANG: IMAM ALGHAZALI
PENTERJEMAH:MUHAMMAD HILMAN ANSHARY


JUDUL BARU:

Guide Book  for Ma'rifat

RAHASIA POTENSI DIRI UNTUK MENEMBUS

DIMENSI Ma'RIFAT KETUHANAN

"Dari pengtahuan buku inilah rahasia keTuhanan yang ada dalam diri kita  akan mulai tersingkap":
Prof.Ahmad Hidayat, Direktur Pascasarjana UIN Bandung
Daftar isi 2
TANDA-TANDA PENGETAHUAN TENTANG DIRI 10
PASAL MENGENAI PENGETAHUAN DIRI PRIBADI 15
PASAL MENGENAI HATI, JIWA & RUH 22
PASAL MENGENAI HAKIKAT HATI &RUH 25
PASAL MENGENAI
JIWA SEBAGAI KENDARAAN HATI 30
PASAL MENGENAI SYAHWAT & AMARAH 33
PASAL MENGENAI MENGETAHUI HATI DAN BALA TENTARANYA  35
PASAL MENGENAI AMARAH&SYAHWAT PEMBANTU JIWA 38
PASAL MENGENAI TIGA FORMASI KEBAHAGIAN  43
PASAL MENGENAI HATI;PRILAKU JELEKNYA &BAGUSNYA  45
PASAL MENGENAI EMPAT HAKIKAT DALAM KULIT MANUSIA  48
PASAL MENGENAI EMPAT KONDISI MANUSIA PADA HARI KIAMAT  52
PASAL MENGENAI KELEBIHAN MANUSIA ATAS BINATANG  54
PASAL MENGENAI KEAJAIBAN HATI & DUA PINTU HATI 57
PASAL MENGENAI CERMIN HATI 59

PASAL MENGENAI HATI, ILHAM &ALAM MALAKUT  61

PASAL MENGENAI DIBALIK KETERBUKAAN HATI 62

PASAL MENGENAI SEMUA MANUSIA BERHAK ATAS RAHASIA KETUHANAN  69

PASAL MENGENAI NIKMAT DAN KEBAHAGIAAN MANUSIA TERLETAK PADA MA’RIFAH ALLAH  73

PASAL MENGENAI ALAM DAN SARIPATI MANUSIA  76

PASAL MENGENAI PENGETAHUAN TENTANG KOMPOSISI JASAD BADAN DAN MANFAAT-MANFAAT ANGGOTA TUBUH  78

PASAL MENGENAI URAIAN BENTUK MANUSIA MERUPAKAN KUNCI MENGETAHUI SIFAT-SIFAT KETUHANAN DAN TERMASUK ILMU MULIA  81

PASAL PENUTUP  82
PEMBUKAAN
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puja puji kepada Allah Swt yang telah mengangkat jiwa orang-orang yang suci dengan mujahadah[1], yang telah membahagiakan hati para wali dengan musyahadah[2], yang telah menghiasi lisan orang-orang mukmin dengan zikir, yang telah mengagungkan bisikan hati orang-orang  Arif (berpengetahuan pada Allah) dengan berfikir, yang telah menjaga khalayak hamba dari kerusakan, yang telah menahan segala kesulitan dari para ahli zuhud, yang telah menghindarkan orang-orang yang bertaqwa dari bayang-bayang syahwat, yang telah mensucikan ruh orang-orang yakin dari gelapnya keraguan, yang telah menerima semua amal perbuatan para manusia terpilih melalui do’a-do’a dan yang telah menguatkan tali kaum merdeka dengan ikatan yang kokoh.
Aku memuji-Nya dengan pujian mereka yang telah melihat tanda-tanda kekuasaan dan kekuatan-Nya, yang telah menyaksikan ke-Mahatunggalan dan wahdaniyah-Nya, yang telah mengetuk pintu-pintu rahasia-Nya dan kemuliaan-Nya, yang telah memetik buah dari sujud dan ketaatan-Nya. Aku mensyukuri-Nya dengan syukur mereka yang telah terbakar dan hanyut dalam aliran sungai kemuliaan dan pemuliaan-Nya.
Aku mengimani-Nya dengan iman mereka yang telah mengakui kitab-kitab-Nya, perintah-Nya, para nabi-Nya, para wali-Nya, janji-janji-Nya, ancaman-Nya, pahala dan azab-Nya. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Tunggal dan tak memiliki sekutu. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diutus untuk menghancurkan mata rantai kefasikan dan kerusakan moral, diutus untuk memporakprandakan golongan  pembangkang, diutus untuk memaksa orang-orang musyrik dan peragu, diutus untuk menolong para pengikut kebenaran dan kebaikan. Maka semoga keselamatan senantiasa Allah anugerahkan kepadanya dan para sahabatnya.

TANDA-TANDA

PENGETAHUAN TENTANG DIRI

Ketahuilah ! bahwa pengetahuan tentang  kimia kebahagiaan[3] yang bersifat dhohir tidak ada dalam perbendaharaan ilmu kaum awam kebanyakan, akan tetapi tersimpan dalam gudang ilmu para raja, demikian juga dengan  kebahagiaan. Ia hanya ada dalam gudang rahmat Allah Swt. Di langit sana tersimpan esensi (jawhar) para malaikat, dan di bumi tersimpan di hati para wali yang Arifbillah. Dan setiap orang yang mencari  ini tanpa bersandar hadrat kenabian[4], maka ia telah salah jalan dan semua daya upayanya tak lebih seperti uang dinar palsu. Ia kira dirinya kaya raya, tapi sebenarnya miskin di hari kiamat sebagaimana ditegaskan Allah Swt:
“Maka Kami singkapkan daripadamu tutup yang menutupi matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (Q.S. Qaf [50]: 22).
Dari sekian rahmat Allah pada hamba-Nya, Dia telah mengutus seratus dua puluh empat ribu nabi untuk mengajarkan seluruh manusia tentang  naskah kimia ini, mengajarkan mereka bagaimana menjadikan hati sebagai tempaan mujahadah[5], mengajarkan bagaimana membersihkan hati dari budi pekerti yang buruk dan mengajarkan bagaimana mengendalikanya untuk menyusuri lorong-lorong kesucian, seperti dijelaskan Allah Swt:
“Dialah yang mengutus pada kaum yang buta huruf seorang rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kitab dan hikmah.” (Q.S. al-Jum’ah [62]: 2).
Yaitu mensucikan mereka dari akhlak yang buruk dan sifat-sifat kebinatangan serta menjadikan sifat-sifat malaikat sebagai baju dan hiasan mereka.
Adapun maksud dari Kimia  ini adalah bahwa semua yang berhubungan dengan sifat-sifat negatif maka wajib menanggalkannya, dan semua yang berhubungan dengan sifat-sifat kesempurnaa maka wajib mengenakannya. Satu-satunya rahasia keberhasilan KIMIA KEBAHAGIAAN ini adalah kembali mundur dari keduniawian seperti ditegaskan oleh Allah Swt:
“Dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (Q.S. al-Muzammil [73]: 8).
Dan keutamaan  ini sangat banyak dan luas.

PASAL MENGENAI

PENGETAHUAN DIRI PRIBADI

Ketahuilah ! bahwa kunci mengetahui Allah (ma’rifah Allah) adalah mengetahui diri sendiri. Seperti firman-Nya:
“Kami akan memperlihatkan pada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami atas segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an adalah benar.” (Q.S. Fussilat [41]: 52).
Demikian pula sabda Nabi Saw:
“Siapa saja yang tahu akan dirinya, maka ia telah mengetahui Tuhannya.”
Tidak ada sesuatupun paling dekat denganmu kecuali dirimu sendiri. Maka jika kamu tidak mengetahui dirimu, bagaimana mungkin kamu bisa mengetahui Tuhanmu?
Jika kamu katakan bahwa aku telah mengetahui diriku, yang kamu tahu sebenarnya adalah diri bagian jasmani (anggota badan) yang terdiri dari tangan, kaki, kepala dan lainnya. Kamu tidak mengetahui apa yang tersimpan dalam batinmu, yang bila sedang marah, ia mendorongmu untuk bertengkar. Jika sedang bernafsu, ia mengajakmu kawin. Jika sedang lapar, ia memintamu makan, jika sedang haus, ia menuntutmu minum, dan hewan sangat mirip denganmu dalam hal ini. Maka itu, yang wajib Anda lakukan adalah mengenalkan hakikat pada dirimu hingga Anda tahu apa sebenarnya dirimu, dari mana kamu datang hingga sampai di tempat ini, untuk tujuan apa kamu diciptakan, dengan apa kamu bisa meraih kebahagiaan dan dengan apa kamu mendapatkan kepuasan.
Dalam jiwamu terkumpul berbagai macam sifat, diantaranya sifat-sifat binatang jinak, binatang buas, pun demikian sifat-sifat malaikat. Maka ruh adalah hakikat jauharmu yang paling esensial, lainnya adalah unsur asing dan kosong telanjang. Maka yang wajib kamu lakukan adalah mengetahui hal ini. Bahwa bagi sifat-sifat itu ada ransom makananya dan kebahagianya.
Kebahagiaan binatang jinak terletak pada makan, minum, tidur dan kawin, maka jika kamu merasa bagian dari mereka, kenyangkan perutmu dan puaskan kelaminmu. Kebahagiaan akan dirasakan binatang buas ketika mampu menyerang dan melumpuhkan mangsa, kebahagiaan setan terletak pada makar, kejahatan dan tipuan, maka jika kalian merasa bagian dari mereka, berbuatlah seperti yang mereka perbuat.
Kebahagiaan para malaikat, ketika mereka hadir mengalami indahnya hadrat kesakralan Tuhan, bagi mereka tak ada jalan sedikitpun untuk amarah dan syahwat. Jika Anda merasa bagian dari jauhar hakikat malaikat, berjuanglah mengenal asalmu sampai Anda tahu jalan menuju Hadrat Ilahiah(hadirnya kesakralan Tuhan), sampai Anda bisa menyaksikan Jalal-Nya(keagungan) dan Jamal-Nya(keindahan), sampai Anda mampu menjernihkan dirimu dari belenggu amarah dan syahwat, sampai Anda tahu untuk apa sifat-sifat ini menjadi bagian darimu. Allah Swt tidak menciptakan semua sifat itu agar mereka menawanmu, tapi Ia menciptakannya agar mereka menjadi tawananmu, agar bisa mendorongmu berjalan, yaitu kedua kakimu dan agar salah satunya bisa Anda jadikan tunggangan sedangkan lainnya sebagai senjata hingga Anda mencapai kebahagiaan. Jika Anda telah sampai pada tujuanmu, maka tekanlah ia di bawah kedua kakimu dan kembalilah ke tempat kebahagiaanmu. Tempat itu adalah rumah bagi para khawas (orang-orang khusus) yang menyaksikan Hadirat Ilahi (al-Hadrah al-Ilahiyyah), sedang rumah-rumah para awam adalah tingkatan-tingkatan dalam syurga. Anda sangat memerlukan dan mengerti makna-makna ini untuk bisa mengetahui sedikit saja tentang dirimu.
Dan barangsiapa yang tidak memahami pada makna-makna ini, maka ia hanya mendapat bagian kepingan-kepingannya saja, karena hakikat yang sebenarnya terhijab (tertutup) baginya.
Ed:1

PASAL MENGENAI HATI, JIWA & RUH

Jika Anda berkemauan mengetahui dirimu, maka ketahuilah ! bahwa Anda sebenarnya terdiri dari dua hal:
Pertama, hati, dan
Kedua yang disebut jiwa atau ruh. Jiwa atau ruh adalah hati yang biasa Anda sebut sebagai mata hati. Hakikatmu adalah yang batin, karena jasad yang tampak pertama sebenarnya merupakan yang terakhir, dan jiwa yang Anda sangka sebagai terakhir sebenarnya yang pertama, atau disebut hati.
Hati bukanlah sepotong daging yang terletak di dada sebelah kiri, karena itu hanya berlaku bagi binatang dan jasad mati. Segala sesuatu yang Anda lihat dengan mata dhohir adalah alam ini atau yang disebut alam syhadah. Sedangkan hakikat hati bukanlah bagian alam ini, tapi alam ghaib, dan hati dialam ini adalah hal asing. Potongan daging itu hanyalah wadahnya, semua anggota tubuh jasmanii adalah bala tentaranya, sedang ia adalah rajanya. Ma’rifah Allah (mengetahui Allah) dan musyahadah (menyaksikan) keindahan hadir-Nya adalah sifat-sifat hati, beban baginya dan perintah untuknya. Dari situ ia mendapatkan pahala dan siksa, kebahagiaan dan kepuasan mengikutinya, demikian ruh hewani pun senantiasa mengintainya dan selalu membuntutinya.
Mengetahui hakikat hati dan memahami sifat-sifat hati adalah kunci Ma'rifatullah (mengetahui Allah Swt). Maka Anda harus berjuang keras untuk mengetahuinya, karena ia adalah jauhar aziz (esensi mulia) bagian dari Jauhar Malaikat (esensi para malaikat) yang bahan dasarnya berasal dari Hadirat Ilahi, dari tempat itu ia datang dan ke tempat yang sama ia kembali.
Ed2

PASAL MENGENAI HAKIKAT HATI &RUH

Adapun pertanyaanmu apa hakikat hati, syari’ah tidak menjelaskannya secara panjang lebar kecuali dalam satu ayat:
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku.” (Q.S. al-Isra [17]: 85).
Karena ruh merupakan bagian dari kekuasaan ilahiah, yaitu dari ‘alam al-amr (kuasa perintah Tuhan) Allah Swt berfirman:
“Ingatlah, yang menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (Q.S. al-A’raf [7]: 54).
Dengan demikian, pada satu sisi manusia merupakan bagian dari ‘alam al-khalq (alam ciptaan) dan pada sisi lain bagian dari ‘alam al-amr. Segala sesuatu yang bisa dikenai ukuran panjang lebar, kadar dan mekanisme adalah termasuk ‘alam al-khalq[6], namun hati tak memiliki ukuran panjang lebar dan ukuran tertentu. Oleh karena itu, ia tak menerima pembagian. Jika bisa dibagi, maka ia termasuk ‘alam al-khalq. Contohnya, dari sisi sifat bodoh, maka ia pun menjadi bodoh dan dari sisi sifat pintar, ia pun menjadi pintar. Namun segala sesuatu yang terdiri dari sifat bodoh dan pintar pada saat yang sama adalah mustahil. Dengan kata lain, ia bagian dari ‘alam al-amr, karena dalam ‘alam al-amr tidak berlaku ukuran panjang lebar dan ukuran tertentu.
Sebagian dari mereka mengira bahwa ruh bersifat qadim (awal), maka mereka telah salah. Sebagian lain berpendapat ruh adalah ‘ard (sifat), maka mereka pun salah, karena sifat tak pernah berdiri sendiri, tapi mengikuti yang lain.
Maka, ruh adalah asal anak Adam, dan hati adalah tempat tumbuhnya mereka. Jadi, bagaimana mungkin dia adalah sifat! Sebagian golongan mengatakan ruh adalah badan jamani, mereka juga salah, karena badan jasmani menerima pembagian.
Dan ruh yang sejak tadi kita sebut hati adalah media untuk mengetahui Allah. Oleh karena itu, ia bukan merupakan badan, juga bukan sifat, melainkan unsur esensi malaikat.
Mengetahui tentang ruh sangatlah sulit[7], karena agama tak memberi jalan sedikit pun. Dan agama tak memerlukan untuk mengetahuinya, sebab agama esensinya adalah kesungguhan (mujahadah), sedang ma’rifah (mengetahui) adalah tanda hidayah, sebagaimana firman-Nya:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Q.S. al-Ankabut [29]: 69).
Dan barangsiapa yang tidak bersungguh-sungguh, ia tidak boleh membahasnya atau mencari hakikat ruh. Dasar utama dari mujahadah adalah mengetahui tentara hati, karena manusia jika tidak mengetahui seluk beluk kemiliteran, ia tidak dibenarkan untuk berjihad.
Ed3

PASAL MENGENAI JIWA SEBAGAI KENDARAAN HATI

Ketahuilah ! bahwa jiwa adalah kendaraan hati, hati memiliki bala tentara, seperti dijelaskan Allah Swt:
“Dan tak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri.” (Q.S. al-Mudatstsir [74]: 31).
Hati diciptakan untuk pekerjaan alam akhirat, agar mendapatkan kebahagiaannya. Kebahagiaan hati adalah dengan mengetahui Tuhannya. Mengetahui Tuhannya bisa didapatkan melalui ciptaan Allah swt dari berbagai ‘alam-Nya. Keajaiban alam tak mungkin terlihat kecuali melalui panca indera, dan panca indera berasal dari hati yang mengambil jiwa sebagai sarananya. Kemudian dilanjutkan dengan mengetahui tehnis kerjanya dan jaringannya. Jiwa tak berfungsi kecuali dengan makan, minum, suhu panas dan kelembapan tertentu. Ia lemah saat dihampiri bahaya dari dalam, yaitu lapar dan haus, demikian juga saat melawan bahaya luar, seperti air dan api. Ia menghadapi banyak musuh.
Ed4

PASAL MENGENAI SYAHWAT & AMARAH

Anda juga perlu mengetahui adanya dua macam bala tentara, yaitu bala tentara bagian luar(dhohir) yang terdiri dari syahwat dan amarah, berikut tempat-tempatnya pada kedua tangan,kedua kaki, kedua mata, kedua telinga dan semua anggota badan. Sedangkan tentara bagian dalam terletak dalam otak kepala, yaitu daya khayal, daya pikir, daya hafal, ingatan dan bingung. Setiap kekuatan ini memiliki fungsi khusus, jika salah satunya lemah, maka kondisi manusia pun akan lemah dalam dua alam (dunia-akhirat). Satu bagian yang mencakup dua hal ini adalah hati dan ia adalah pemimpinnya. Jika hati menyuruh lidah menyebutkan sesuatu, maka ia akan menyebutkannya. Jika memerintahkan tangan untuk menyerang, maka ia akan menyerang. Jika menyuruh kaki untuk melangkah, maka ia pun akan melangkah. Demikian pula panca indera, hingga bisa menjaga diri agar tetap bisa menyimpan pahala untuk di akhirat, berfungsi secara baik, menyeselesaikan kontrak kerja dan menghimpun butiran-butiran kebahagiaan. Dan mereka semua tunduk dan patuh kepada perintah hati sebagaimana para malaikat yang tunduk dan patuh pada perintah Tuhannya dan tidak berani menentang perintahnya.
Ed5

PASAL MENGENAI MENGETAHUI HATI DAN

BALA TENTARANYA

Ketahuilah !, seperti dikatakan dalam pepatah terkenal; jiwa diibaratkan sebuah kota, kedua tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh sebagai lahannya, kekuatan syahwat sebagai walikotanya, amarah sebagai kendaraanya, hati sebagai rajanya dan akal sebagai perdana menterinya. Raja bertugas mengatur segenap aparatur agar kondisi kerajaan tetap stabil, karena sang walikota atau syahwat adalah pembohong, acuh tak acuh dan ambisius. Demikian pula kendaraan yaitu amarah teramat jahat, pembunuh dan perusak. Jika sejenak saja sang raja meninggalkan mereka dalam keadaan aslinya, mereka akan menguasai kota dan merusaknya. Maka sang raja wajib berkonsultasi pada sang menteri dan menjadikan sang wali dan bagian transportasi dibawah pengawasan sang menteri. Jika ia melakukan hal itu, maka kondisi kerajaan akan tetap stabil, dan kota akan makmur. Demikian juga hati juga bermusyawarah pada akal untuk menjadikan syahwat dan amarah di bawah kekuasaannya sampai kondisi jiwa menjadi stabil dan bisa mengantarkan pada sebab-sebab kebahagiaan, yaitu mengetahui Hadirat Ilahi ( Ma'rifat alhadrat al-ilahiyah).
Seandainya akal dalam kondisi di bawah kekuasaan amarah dan syahwat, maka jiwanya akan rusak dan hatinya tidak akan bahagia di akhirat kelak.
Ed 6

PASAL MENGENAI

AMARAH&SYAHWAT PEMBANTU JIWA

Ketahuilah ! bahwa syahwat dan amarah pembantu jiwa. Keduanya senantiasa menarik-nariknya, terus mempertahankan urusan makan, minum dan kawin sebagai media indera. Kemudian jiwa mempekerjakan indera sebagai jaringan akal dan mata-matanya, yang dengannya ia mampu menyaksikan kehadiran Allah Swt. Kemudian indera juga mempekerjakan akal, yaitu hati sebagai lentera dan lampu yang melalui cahayanya ia bisa melihat Hadrat Ilahiah . Dengan demikian, kenikmatan perut dan kemaluannya menjadi terhinakan. Kemudian akal juga memfungsikan hati, sebab hati diciptakan untuk memandang keindahan Hadrat Ilahiah. Barang siapa yang berdaya upaya dalam fungsi ini, maka ia adalah hamba yang sebenarnya, yang terlahir dari  al-hadrah al-ilahiyah, sebagaimana firman-Nya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Q.S. az-Zariyat [61]: 56).
Artinya, bahwa Kami telah menciptakan hati, memberinya  kerajaan dan memberinya pasukan tentara. Kami juga telah menjadikan jiwa sebagai kendaraannya hingga ia bisa berjalan dari alam ke-Tanah-an ke alam atas yaitu ‘Illiyin.
Maka jika berkeinginan melaksanakan hak anugerah kenikmatan ini, duduklah dalam kerajaannya, jadikan Hadrat al-Ilahiah sebagai kiblat dan tujuannya, jadikan akhirat sebagai tanah air dan akhir keputusannya, jadikan jiwa sebagai kendaraannya, dunia sebagai rumahnya, kedua tangan dan kaki sebagai pembantunya, akal sebagai menterinya, syahwat sebagai karyawannya, amarah sebagai angkutannya dan indera sebagai mata-matanya.
Masing-masing bagian itu adalah cerminan dari setiap alam yang menghimpun semua keadaan mengenai keadaan alam-alam lainnya. Daya khayal di bagian permukaan otak seperti seorang komandan yang bertugas menghimpun semua informasi para mata-mata. Daya hafal pada bagian tengah otak bagaikan pemilik peta yang bertugas menghimpun penggalan-penggalan dari tangan sang komandan yang kemudian disampaikan   kepada akal. Jika informasi-informasi ini sampai pada sang menteri, maka ia akan melihat keadaan kota yang sebenarnya.
Jika Anda melihat salah satu dari mereka melanggar, seperti syahwat dan amarah, maka Anda harus berusaha keras( bermujahadah) menaklukanya. Tidaklah mujahadah ini untuk membunuh syahwat dan amarah, sebab kerajaan tak akan bertahan tanpa keduanya. Jika Anda  melakukannya, maka Anda adalah orang yang berbahagia, yang telah melaksanakan urusan yang hak untuk dilakukan yaitu anugerah nikmat, wajib bagimu menghadiahkan sesuatu pada saatnya, jika tidak, maka Anda tidak akan bahagia, dikenai siksa dan diwajibkan bertaubat.
ed

PASAL MENGENAI

TIGA FORMASI KEBAHAGIAN

Kebahagiaan sempurna dibangun di atas tiga hal, kekuatan amarah, kekuatan syahwat dan kekuatan ilmu[8]. Tiga hal ini harus diseimbangkan agar kekuatan syahwat tidak muncul menguasai yang justru akan merusak anda. Demikian juga kekuatan amarah agar tidak menguasai dan membodohi, yang akan merusak dan mengahncurkan anda. Jika kedua kekuatan tersebut seimbang dengan adanya kekuatan keadilan dan keseimbangan, maka keduanya akan menuju pada jalan hidayah. Jika amarah semakin menguat, maka akan mudah pada terjadinya penyerangan dan pembunuhan, sebaliknya jika amarah melemah, maka kewaspadaan, ketentraman dalam agama dan dunia akan hilang. Namun jika diseimbangkan, yang akan muncul adalah kesabaran, keberanian dan kebijaksanaan.
Syahwat-pun demikian, jika semakin mendominasi, maka akan muncul adalah kejelekan dan kejahatan, sebaliknya jika syahwat melemah , maka akan menyebabkan kelemahan dan ketidakgairahan. Namun jika terkendali seimbang, yang ada adalah kesucian (‘iffah), kepuasan (qana’ah) dan sifat-sifat sejenis lainnya.
ed

PASAL MENGENAI HATI;PRILAKU JELEKNYA & BAGUSNYA

Ketahuilah ! bahwa hati dan bala tentaranya memiliki keadaan dan sifat-sifat yang sebagian disebut dengan budi pekerti buruk dan sebagian lain disebut budi pekerti terpuji. Budi pekerti terpuji akan mengantarkan pada kebahagiaan, dan akhlak buruk mengantarkan pada kehancuran dan siksa.
Semua ini terdiri dari empat jenis budi pekerti( akhlak). Yaitu: akhlak setan, akhlak binatang jinak, akhlak binatang buas dan akhlak malaikat. Perilaku jelek, yaitu makan, minum, tidur dan kawin adalah akhlak binatang jinak. Tingkah laku amarah pemukulan, pembunuhan dan pertikaian adalah akhlak binatang buas. Prilaku-prilaku jiwa seperti makar, penipuan, kecurangan dan hal lain sejenis adalah akhlak setan. Terakhir, kegiatan berfikir yang menghasilkan rahmat, ilmu dan kebaikan  adalah akhlak malaikat.
ed

PASAL MENGENAI

EMPAT HAKIKAT DALAM KULIT MANUSIA

Ketahuilah ! bahwa dalam kulit anak adam(manusia) terdapat empat hal, anjing, babi, setan dan malaikat. Anjing tercela dari segi sifatnya dan bukan dari bentuknya. Begitupun setan dan malaikat, hal-hal tercela dan keterpujianya[9] hanya pada sifat-sifatnya dan bukan pada bentuk atau prilakunya. Babi pun demikian, tercela dalam sifat-sifatnya bukan  pada bentuk dan tingkah lakunya.
Karenanya manusia diperintahkan untuk menyingkap gelapnya kebodohan dengan cahaya akal, agar terhindar dari segala macam fitnah. Seperti ditegaskan Rasul Saw:
“Tak seorangpun (dari manusia) kecuali memiliki setan, aku juga memiliki setan. Sungguh Allah telah menjagaku dari setanku hingga aku bisa menguasainya.”[10]
Demikian syahwat dan amarah seharusnya berada dibawah kendali akal, keduanya hanya boleh berbuat bergerak melakukan sesuatu dengan kendali akal. Maka jika seseorang berbuat demikian, ia benarlah baginya disebut berakhlak terpuji yaitu; sifat malaikat dan merupakan benih kebahagiaan. Jika melakukan kebalikannya, maka ia disebut berakhlak tercela yaitu sifat-sifat setan dan merupakan benih dari siksa.Dalam tidur ia akan melihat dirinya seakan berdiri terpasung menjadi budak anjing dan babi. Orang ini seperti lelaki muslim yang membawa beberapa muslim lainnya dan menahan mereka di penjara orang-orang kafir.
Bagaimana keadanmu jika nanti pada hari kiamat sang raja, yaitu akal, menahanmu dibawah kekuasaan syahwat dan amarah, yaitu anjing dan babi?
ed

PASAL MENGENAI EMPAT KONDISI MANUSIA PADA HARI KIAMAT

Ketahuilah ! bahwa manusia saat ini dalam bentuk anak Adam, esok saat makna-makna itu tersingkap, mereka pun keluar dalam bentuk menyesuaikan dengan makna masing-masing. Mereka yang dominan amarahnya, maka akan berdiri dalam bentuk anjing. Mereka yang dominan nafsunya, maka akan berdiri dalam bentuk babi, sebab bagaimanapun bentuk selalu mengikuti makna-makna. Seorang yang tertidur akan melihat semua yang ada dalam jiwanya. Demikian pula karena isi jiwa manusia teridentifikasi dalam empat hal di atas, maka ia harus mengintai setiap gerak-geriknya, diamnya dan mengenali diri termasuk bagian mana dari yang empat. Sifat-sifat itu ada dalam hati dan terus bertahan hingga hari kiamat, dan jika masih tersisa secuil kebaikan, maka itu adalah benih kebahagiaan. Sebaliknya jika yang tersisa adalah secuil kejelekan, maka ia pun merupakan benih dari siksa. Manusia tak akan pernah berhenti bergerak dan diam, hatinya bagaikan kaca, akhlak tercela bagaikan asap dan kegelapan, jika menyentuhnya, maka seketika ia menggelapkan jalan menuju kebahagiaan. Akhlak terpuji bagaikan cahaya dan pancarannya, jika sampai pada hati, maka ia akan membersihkannya dari gelapnya kemaksiatan. Seperti sabda Rasul Saw:
“Ikutkanlah pada perbuatan jelek itu perbuatan baik yang akan menghapusnya.”[11]
Dan hati bisa jadi terang dan gelap, semua tak akan lolos kecuali mereka yang mendatangi Allah dengan hati yang pasrah.

PASAL MENGENAI KELEBIHAN MANUSIA ATAS BINATANG

Ketahuilah ! bahwa nafsu dan amarah yang ada bersama binatang juga terdapat pada anak Adam. Akan tetapi manusia diberi tambahan lain[12] sebagai bekal untuk memperoleh kemuliaan dan kesempurnaan. Dengan hal tersebut, ia bisa mengetahui Allah dan keindahan ciptaan-Nya. Dan dengan hal tersebut manusia bisa menyelamatkan dirinya dari kekuasaan nafsu dan amarah serta meraih sifat-sifat malaikat. Dengan demikian, manusia diberi sifat-sifat binatang jinak dan buas, yang semuanya ditundukka Allah untuk manusia. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah:
“Dia telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan yang ada di bumi semuanya.” (Q.S. al-Jasiyah [45]: 13).

PASAL MENGENAI

KEAJAIBAN HATI&

DUA PINTU HATI

Ketahuilah ! bahwa hati memiliki dua pintu ilmu, satu untuk mimpi-mimpi dan lainnya untuk ilmu sadar, yaitu pintu untuk ilmu realita (zahir). Saat manusia tertidur, pintu-pintu indera tertutup, dibukakanlah pintu bathin dan disingkapkan realitas alam ghaib dari alam malakut dan Lauh Mahfudz seperti cahaya yang terang benderang. Untuk menyingkapnya dibutuhkan semacam tafsir mimpi. Sedang ilmu yang dihasilkan dari realita (zahir) dikira oleh manusia akan memunculkan kesadaran diri, dan bahwa keadaan sadar lebih utama, meskipun sebenarnya ia tidak bisa melihat sesuatupun dari alam ghaib. Bagaimana pun sesuatu yang terlihat antara keadaan sadar dan tidur tetap lebih utama sebagai pengetahuan daripada apa yang terlihat melalui indera.

PASAL MENGENAI CERMIN HATI

Disamping itu, Andapun mesti tahu bahwa hati seperti cermin, Lauh Mahfudz pun demikian. Karena di dalamnya terdapat gambaran dari semua realitas (mawjudat). Jika Anda hadapkan cermin satu dengan lainnya, maka masing-masing gambar pada setiap cermin akan saling menghiasi yang lainnya. Demikian pula semua gambar (suwar) pada Lauh Mahfudz akan tampak dalam hati jika ia telah suci dari nafsu dunia. Jika masih disibukkan dengannya, maka alam malakut akan tetap tertutup. Jika pada saat tidur manusia tak terhubungkan dengan obyek indera, maka ia akan menyaksikan esensi (jawhar) alam malakut dan akan terlihat sebagian gambar yang ada pada Lauh Mahfudz. Jika manusia menutup pintu indera hanya sekedarnya, maka ia hanya memasuki dunia khayal. Karena itu, ia melihat sesuatu yang masih tertutupi pada bagian luarnya dan bukanlah hakikat murni yang tersingkapkan. Jika hati telah mati bersama si pemiliknya, maka pada saat itu tidak ada yang namanya khayal, dan tidak juga indera. Oleh karena itu, pada saat tersebut hati mampu melihat dengan tanpa keraguan ataupun khayalan. Dan ketika itu, diucapkan padanya:
“Maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam.” (Q.S. Qaf [50]: 22).

6PASAL MENGENAI HATI, ILHAM &ALAM MALAKUT

Ketahuilah! bahwa tak seorangpun dari anak Adam kecuali hatinya telah dimasuki sentuhan-sentuhan suci melalui jalan ilham, dan hal itu tidak masuk melalui indera, akan tetapi masuk dalam hati tanpa tahu dari mana asalnya, sebab hati termasuk alam malakut, dan indera tercipta untuk alam ini, yaitu alam al-mulk (alam kuasa). Karenanya ia menjadi penghalang jiwa dari menyaksikan alam malakut manakala tidak tersucikan dari aktifitas indera.

PASAL MENGENAI DIBALIK KETERBUKAAN HATI

Jangan Anda kira kelembutan ini hanya terbuka pada saat tidur dan mati saja, tapi ia pun terbuka saat sadar bagi mereka yang ikhlas berjihad, ikhlas melakukan riyadah (latihan) dan menyelamatkan diri dari kekuasaan nafsu, amarah, akhlak tercela dan perbuatan buruk. Jika ia duduk di tempat sepi dan mengosongkan dirinya dari dari aktifitas indera, kemudian membuka mata hati dan pendengarannya, menjalankan fungsi hatinya sebagai bagian dari alam malakut, terus menerus menyebut kalimat Allah, Allah, Allah, dengan hatinya dan dengan tidak dengan lidahnya sampai ia tak mendapatkan informasi dari dirinya dan alam sekitarnya sedikitpun, dan yang ia lihat hanyalah Allah[13], maka kekuatan itu akan terbuka, apa yang ia lihat disaat tidur, ia bisa lakukan pada saat sadar, yang tampak adalah ruh para malaikat dan para nabi, gambar-gambar bagus yang indah dan mulia, saat itu tersingkaplah kerajaan langit dan bumi. Ia bisa lihat semua yang tak bisa dijelaskan dan tak bisa digambarkan, sebagaimana sabda Rasul Saw:
“Dibentangkan padaku bumi, seketika kulihat ujung barat dan timur.”[14]
Allah Swt menjelaskan:
“Dan demikianlah Kami perlihatkan pada Ibrahim tanda-tanda keagungan Kami (yang terdapat) di langit dan bumi.” (Q.S. al-An’am [6]: 75).
Karena semua ilmu para nabi melalui jalan ini dan bukan melalui jalan indera, seperti ditegaskan Allah Swt:
“Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (Q.S. al-Muzammil [73]: 8).
Artinya terputus dari segala sesuatu, penyucian diri dari segalanya dan terus memohon kesempurnaan pada-Nya, ini adalah jalan (tariq) kaum sufi zaman ini. Sedang cara pengajaran, adalah jalan (tariq) para ulama. Semua ini dirangkum dari jalan kenabian. Begitu juga ilmu para auliya’, sebab ilmu itu tertanam dalam hati mereka tanpa melalui perantara, yaitu dari Hadirat Ilahi sebagaimana firman-Nya:
“Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya di antara ilmu-ilmu dari sisi Kami.” (Q.S. al-Kahfi [18]: 65).
Jalan ini tidak akan dipahami tanpa melalui latihan, dan jika tak dihasilkan dengan rasa, maka ia pun tak bisa dihasilkan melalui pengajaran[15]. Yang seharusnya dilakukan adalah mempercayainya hingga kita bisa mendapatkan kebahagiaan mereka, dan ini adalah sebagian keajaiban hati. Siapa yang tak melihat, ia tidak akan mempercayainya, seperti firman-Nya:
“Yang sebenarnya mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna, padahal belum datang kepada mereka penjelasannya.” (Q.S. Yunus [10]: 39), dan firman-Nya:
“Dan ketika mereka tidak mendapat petunjuk dengannya (Alqur’an) maka mereka berkata:
“Ini adalah dusta yang lama.” (Q.S. al-Ahqaf [46]: 11).

PASAL MENGENAI SEMUA MANUSIA BERHAK ATAS RAHASIA KETUHANAN

Jangan Anda mengira semua ini khusus untuk para nabi dan para wali saja, sebab esensi anak Adam dari asal penciptaannya memang untuk tujuan ini, seperti unsur besi agar dibuat cermin yang bisa digunakan untuk melihat gambaran alam, kecuali yang berkarat dan membutuhkan penyepuhan, atau besi kering yang membutuhkan pengecatan sebab sewaktu-waktu bisa patah. Demikian juga hati, jika nafsu dan kemaksiatan mendominasinya, maka ia tidak akan mencapai derajat ini. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasul Saw:
“Semua yang terlahir berada dalam fitrah (esensi) Islam.”,[16]
Allah berfirman:
“Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Anda Tuhan kami).” (Q.S. al-A’raf [7]: 172).
Begitupun anak Adam, fitrahnya adalah mempercayai akan ketuhanan Allah, seperti dalam firman-Nya:
“Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (Q.S. ar-Rum [30]: 30).
Para nabi dan para wali adalah anak Adam, Allah berfirman:
“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu.” (Q.S. Fussilat [41]: 6).
Setiap yang menanam pasti memetik, siapa saja yang berjalan, pasti sampai, siapa yang memohon, pasti akan mendapatkan. Permohonan tidak akan berhasil tanpa mujahadah – permintaan orang yang telah renta dan arif telah melalui jalan ini – jika dua hal ini berlaku pada seseorang, maka Allah telah berkehendak menganugerahinya kebahagiaan dengan hukum azali hingga ia mencapai derajat ini.

PASAL MENGENAI NIKMAT DAN KEBAHAGIAAN MANUSIA TERLETAK PADA MA’RIFAH ALLAH

Ketahuilah ! bahwa segala sesuatu memiliki rasa bahagia, nikmat dan kepuasan. Rasa nikmat akan diperoleh apabila ia melakukan semua yang diperintahkan oleh tabiatnya. Tabiat segala sesuatu adalah semua yang tercipta untuknya. Kenikmatan mata pada gambar-gambar indah, kenikmatan telinga pada bunyi-bunyi yang merdu, dan demikian semua anggota badan. Kenikmatan hati hanya dirasakan ketika mengetahui Allah (ma’rifah Allah), sebab ia diciptakan untuk melakukan hal itu. Semua yang tidak diketahui manusia, tatkala ia mengetahuinya maka ia akan berbahagia, seperti permainan catur, ketika mengetahuinya ia pun senang, jika ia dijauhkan dari permainan itu, maka ia takkan meninggalkannya dan tak akan sabar untuk kembali memainkannya. Begitu juga mereka yang telah sampai pada ma’rifah Allah[17], pun merasa senang dan tak sabar untuk menyaksikan-Nya, sebab kenikmatan hati adalah makrifat, setiap kali makrifat bertambah besar, maka nikmatpun bertambah besar pula.
Karenanya, ketika manusia mengetahui sang menteri, maka ia akan senang, lebih-lebih jika tahu sang raja, maka kebahagiaannya tentu lebih besar lagi.
Tak ada satu keberadaan pun di alam ini yang lebih mulia dari Allah Swt, sebab kemuliaan yang dimiliki, semua oleh sebab-Nya dan dari-Nya, semua keajaiban alam adalah karya-Nya, tak ada pengetahuan (ma’rifah)

PASAL MENGENAI

ALAM DAN SARIPATI MANUSIA

Ketahuilah ! bahwa jika anak Adam disarikan dari alam, padanya terdapat segala gambaran alam yang masih bisa kita temukan akarnya, sebab tulang-belulang ini seperti pegunungan, dagingnya seperti debu, bulu-bulunya bagaikan tumbuhan, kepalanya bagaikan langit, inderanya seperti bintang, penjelasan mengenai hal ini sangatlah panjang. Demikian bagian dalamnya pun menyimpan gambaran alam, sebab fungsi pencernaan yang ada dalam lambung mirip dengan seorang ahli masak. Kekuatan yang ada pada limpa sama dengan pembuat roti, kekuatan pada usus bagaikan tukang cukur, kekuatan yang memutihkan susu dan memerahkan darah bagaikan tukang sepuh, penjelasan mengenai hal ini cukup panjang, yang penting adalah hendaknya kamu mengetahui berapa banyak alam yang tersimpan bersamamu, yang terus sibuk melayanimu, sedang Anda malah mengabaikannya, dan mereka takpernah beristirahat, Anda bahkan tak mengenalnya dan tak bersyukur pada-Nya yang telah menganugerahkan semua itu untukmu.

PASAL MENGENAI PENGETAHUAN TENTANG KOMPOSISI JASAD BADAN DAN MANFAAT-MANFAAT ANGGOTA TUBUH

Ilmu ini sangatlah agung, kebanyakan manusia mengabaikannya, demikian juga ilmu kedokteran. Setiap mereka yang ingin melihat dirinya dan keajaiban karya Allah Swt dalam dirinya, membutuhkan minimal tiga sifat dari sfat-sifat ketuhanan.
Pertama, hendaknya mengethui bahwa yang menciptakan seseorang juga mampu membawanya pada kesempurnaan dan bukan pada sebaliknya, Ia adalah Allah Swt. Tak satu pun perbuatan di dunia yang lebih ajaib dari penciptaan manusia yang berasal dari air hina dan pembentukan fisik dengan bentuk yang sangat menakjubkan, sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur.” (Q.S. al-Insan [76]: 2).
Maka untuk mengembalikannya setelah mati adalah lebih mudah lagi, sebab pengulangan selamanya lebih mudah daripada permulaan.
Kedua, pengetahuan tentang ilmu Allah Swt bahwa ia mencakup segala sesuatu. Sebab keajaiban dan keanehan ini tak mungkin ada kecuali dengan kesempurnaan ilmu.
Ketiga, hendaknya Anda tahu bahwa keramahan-Nya, rahmat-Nya dan perlindungan-Nya mengenai segala sesuatu, tak terbatas di saat Anda melihat tumbuhan, hewan dan kandungan bumi, semua berada dalam keluasan kuasa-Nya, bentuk yang baik dan warna yang indah.

PASAL MENGENAI URAIAN BENTUK MANUSIA MERUPAKAN KUNCI MENGETAHUI SIFAT-SIFAT KETUHANAN DAN TERMASUK ILMU MULIA

Yaitu pengetahuan tentang keajaiban karya-karya Ilahi, pengetahuan tentang keagungan dan kekuasaan Allah Swt, yang merupakan ringkasan (sari) dari pengetahuan hati. Ilmu ini begitu mulia, sebab berbicara tentang karya Ilahi, sebab jiwa bak kuda, akal sebagai penumpangnya dan keduanya terhimpun dalam kalimat penunggang kuda (joki). Siapa yang tak mengenal dirinya dan mengaku mengenal lainnya, maka ia seperti seorang lelaki bangkrut yang tak memiliki makanan sedikitpun untuk dirinya dan mengaku menafkahi orang-orang miskin di kotanya.

PASAL PENUTUP

Jika Anda mengetahui kemuliaan, kehormatan, kesempurnaan, keindahan dan keagungan setelah Anda menyadari bahwa esensi hati adalah esensi yang paling mulia, yang semua itu telah dianugerahkan kepadamu dan kelak akan ditarik kembali, dan Anda justru tidak memintanya, malah mengabaikannya dan menghilangkannya, maka Anda akan sangat menyesal pada hari kiamat. Berjuanglah untuk mendapatkannya, tinggalkanlah segala kesibukan duniawi! Dan segala kemuliaan yang tidak tampak di dunia, maka di akhirat kelak akan menjadi kebahagiaan, keabadian tanpa kefanaan, kekuasaan tanpa kelemahan, pengetahuan tanpa kebodohan, keindahan sekaligus keagungan.
Sedang hari ini, tak seorang pun yang lebih lemah darinya, sebab ia termiskin dan kekurangan, akan tetapi kemuliaan akan ia alami esok jika ia tancapkan pengetahuan tentang  kebahagiaan ini dalam inti hatinya, hingga ia bisa menyelamatkan dirinya dari perumpamaan binatang dan bisa mencapai derajat malaikat.
Jika ia kembali pada nafsu dunia, maka ia lebih memilih menjadi binatang pada hari kiamat, karena sebenarnya ia kembali ke asalnya yaitu tanah. Dan ia pun akan abadi dalam siksa.
Kami berlindung kepada Allah Swt dari semua itu, kami meminta pertolongan-Nya, sebab Ia sebaik-baik Pemelihara dan Penolong, dan rasa syukur ini untuk Alah Swt, Tuhan semesta alam. Semoga keselamatan senantiasa dianugerahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw dan keluarga berikut para sahabatnya.
The End

[1] Perjuangan membersihkan hati dengan beragam ibadat. [2] Penyaksian pada cahaya keTuhanan.
[3]Menghilangkan kotoran hati an mensucikannya diisi dengan keutamaan. Menurut Imam Jurjani ada juga kimia awam;menggantikan kenikmatan dunia dengan kenikmatan akhirat dan kimia orang khusus;memurnikan hati dari alam beralih ke Pencipta alam
[4] Sebab Nabi saw lah yang menerima wahyu dan menerangi jalan.
[5] Hati ditempa dengan Mujahadah ibadah agar suci, seperti besi berkarat ditempa dalam bara api agar murni.
[6] Imam Qohtoby berkata ruh tidak masuk dalam katagori objek KUN, artinya bahwa ruh adalah kehidupan itu sendiri .Hidup dan kehidupan adalah sifat Yang maha hidup. Ruh yang berada dalam jasad bukanlah makhluk sebagaimana jasad. ( Lihat; aTaaruf  limadzhab ahli tasawwuf; alKalabadzi, hal 68, Darul kutub ilmiah, bairut)
[7] Berkata Imam Junaidy alBagdadi Ruh adalah sesuatu yang dibiasi oleh ilmu Allah dan tak seorangpun yang memahaminya dari makhlukNya. Dan tak diperkenankan mengibaratkannya dengan apapun.
[8] Orang kuno yang pertama mendefinisikan tugas Jiwa adalah Plato bahwa jiwa memiliki tiga kekuatan;kekuatan syahwat, kekuatan amarah, kekuatan Akal. Dimanasyahwat dan amarah adalah pembantu bagi kekuatan akal. Plato mengibaratkan Manusia dengan kekuatan dan perangkatnya adalah sebuah kota yang mesti ditata, dimana penduduknya dibagi dalam tiga kasta: kasta buruh para pekerja, kasta peperangan dan kasta hakim, dimana kasta buruh sebanding dengan kekuatan syahwat, dan kasta peperangan sebanding dengan kekuatan amarah dan kasta hakim sebanding dengan kekuatan akal. Demikian juga berpendapat Cendikiawan Alfarabi dalam kitabnya" Aro' ahlil madinah alfadilah"
[9] Ketercelaan syetan dan keterpujian malaikat, sebab syetan hanya memilki sifat tercela saja sedang malaikat hanya memilki sifat keterpujian.
[10] Riwayat muslim, kitab sifat kaum munafiq hadis no 70, Imam Ahmad; Musnad;juz 6 hal 115. dari Aisyah.
[11] Riwayat: aTurmudzi;albar,asilah;bab 55, Adda romy; arroqoiq,bab 73, Imam Ahmad;Musnad; juz 5 hal 153, Hadis dari Mu'az bin jabal.
[12] Kekuatan akal
[13] Imam Jurjani berkata dalam Ta'rifat hal 163:  lenyapnya hati dari mengetahui hal ihwal makhluk bahkan dari keadaan dirinya, ia liputi oleh Sulthon hakikat, ia hadir dalam AlHaq, gaib dari dirinya dan dari makhluk. Sebanding dengan ini adalahl kisah dalam al-Qur'an tentang Nabi yusuf, dimana para perempuan ketika menyaksikan ketampanan Nabi Yusuf merekapun memotong tangan sendiri, bagaimana keadaan jika seseorang melihat keindahan Dzat sang pemilik keindahan?.
Fana menurut ahli tasauf adalah tenggelam dalam keagungan dan penyaksian alHaq.
[14] Riwayat: Muslim;Fitan;no 19, Abu Dawud; Fitan,  bab 1,Atturmudzi;Fitan;bab 14, Ibnu Majah;Fitan;bab9, Imam Ahmad;Musnad; Juz 5,hal 278. Hadis dari Syadad bib Aus dari Nabi Saw.
[15] Ini sebagaimana terjadi pada zaman alGhazali dimana para Murid penggemar tasauf  dibebani beragam aturan oleh para Syeh Tasauf yang akan menunjukan jalan istiqomah. Adapun Tehnik tasauf alGhazali Ia mengambil langsung dari petunjuk kenabian tanpa perantara para Syeh tasauf, dan jenis tasauf ini doperuntukkan bagi penggemar berat seperti algazali sendiri.
[16] Riwayat: Ahmad,Malik, Abu Dawud,atTurmudzi, adDaromy.
[17] Sepakat para ahli Tasauf bahwa ma'rifat tidak akan sempurna dengan akal. Dalil mereka; bagi Allah adalah Allah semata. Menurut mereka jalan akal adalah jalan orang yang berakal  adalam kebutuhanya pada dalil, kerena akal adalah baru dan yang baru hanya kan menunjukan pada yang baru juga. Seorang pria bertanya pada Imam Annury: apa dalilnya Allah? Ia Jawab: Allah, Maka dimana fungsi akal? Ia jawab:Akal lemah, yang lemah hanya akan menunjukan pada yang lemah juga.

Berkata Ibnu atTo': akal adalah alat ibadah bukan bukan untuk memulyakan keTuhanan.

Wednesday, September 7, 2016

APAKAH MAKSUD SEBENAR ISLAM

Apakah maksud sebenar ISLAM?
A). Islam mengikut istilah bahasa. Islam itu adalah selamat, nasihat, tunduk, patuh menurut ajaran Rasulullah saw dalam perkara ucapan serta pekerjaan anggota zahir.

B) Islam mengikut pandangan syarak.

Islam itu adalah mengaku dengan lidah, membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan perbuatan.

C) Islam mengikut pandangan makrifat.

Islam itu agama menyembah Allah, agama mengenal Allah (makrifat), agama yang merangkumi unsur iman dan ihsan.  Islam itu adalah agama kefahaman dan penghayatan ilmu roh rukun islam.  Islam bukan agama ikut-ikutan, bukan agama pada panggilan nama dan bukan pada keturunan.  Islam bukan sahaja pada pekerjaan anggota zahir, Islam itu adalah pekerjaan ibadah zahir yang disertai ibadah anggota batin.  Iaitu pekerjaan anggota hati (roh) yang mengenal Alllah swt, melalui ilmu makrifat.

Mengikut pengertian dan penafsiran makrifat, berdirinya agama itu, adalah berlandaskan Islam, berdirinya islam itu, adalah berlandaskan iman, berdirinya iman pula, adalah berlandaskan ihsan manakala berdirinya ihsan itu diatas dasar mengenal Allah swt.

Agama itu, bermakna nasihat manakala islam itu, bermakna selamat.  Apabila kedua-dua perkataan itu digabungkan, ianya membawa maksud nasihat yang selamat.  Agama islam itu adalah merupakan jalan nasihat yang selamat yang sesuai sepanjang zaman.  Nasihat yang benar-benar selamat dan berguna itu, hanya agama dari agama islam.  Agama islam mengandungi tiga unsur, pertama unsur islam, kedua unsur iman, dan ketiga unsur ihsan.  Inilah yang membezakan agama islam dengan agama-agama yang lain.  Unsur-unsur seumpama itu tidak dimiliki oleh agama-agama lain.

Apakah Asas Rukun Islam ?

Mengikut hukum syarak islam itu berasaskan kepada lima perkara rukun.

1.  Mengucap dua kalimah syahadah
2.  Menunaikan sembahyang lima waktu.
3.  Berpuasa di bulan ramadan
4.  Mengeluarkan zakat
5.  Menunaikan ibadah haji ke Mekah

Bagaimana Mengukur Kebenaran Islam ?

Islam adalah agama Ad-Din, yang selamat, sesuai sepanjang zaman.  Islam adalah agama yang benar dan diterima di sisi Allah Ta'ala.  Agama yang mengamal, menganjur dan mengajak umatnya kepada cara hidup yang sempurna dan cara hidup yang selamat.  Menganjur umatnya menjunjung titah perintah Allah dan menjauhi segala larangan dan apa-apa yang ditegah syarak.  Islam yang sebenar itu, bukan sahaja bergantung kepada rukun yang lima.  Rukun islam yang luma perkara itu, hanya membicarakan soal perkara syariat, sekadar yang boleh dipandang dengan mata zahir sahaja.  Seumpama memandang kepada pohon secara zahir, tanpa melihat rahsia biji benih yang tersembunyi roh disebaliknya.

Islam pada tahap makrifat, bukan sahaja belajar ilmu rukun, ilmu pokok atau ilmu pohon, tetapi merangkumi ilmu yang membicarakan perkara rahsia roh yang tersembunyi di sebalik rukun, disebalik pokok dan di sebalik biji benih.

Benarnya islam itu, bukan sahaja menjaga ibadah zahir, tetapi juga menjaga ibadah batin (roh ibadah).  Menunaikan rukun islam yang lima itu, hanya sekadar zahirnya sahaja, sedangkan ia hendaklah diamalkan berserta dengan roh rukun.  Dari segi pekerjaan ibadah zahirnya, ramai dikalangan kita yang boleh mengamalkannya dengan baik dan sempurna, termasuklah anak-anak kita yang masih dibawah umur yang belum akil baligh.  Seandainya kanak-kanak dibawah umur, boleh mengerjakan ibadah sebagaimana kita orang dewasa, apalah nilai ibadah kita, jika dibandingkan dengan ibadah kanak-kanak !.  Kononnya ibadah kanak-kanak itu, tidak dikerjakan dengan roh ibadah, manakala diri kita yang dewasa ini, manakah roh ibadah kita!.

Bagi memastikan Islam sebagai agama yang benar, ianya memerlukan kepada kefahaman dan penghayatan kepada roh ilmu yang tersembunyi disebalik amal. Kebenaran Islamnya itu, bukan datangnya dari keturunan,  baka, cara berpakaian, cara pemakanan atau ucapan lidah.  Kebenaran islam itu datangnya dari kefahaman dan penghayatan roh islam itu sendiri.  Pekerjaan dalam perkara islam itu, boleh ditunaikan melalui perbuatan zahir, seumpama ucapah syahadah, sembahyang, puasa, zakat, haji, zikit atau amalan sunat.  Perkara Islam itu boleh dibuat-buat, diperlihat, dipertontonkan dan boleh dizahirkan kepada khalayak ramai.  Islam boleh dinilai dan boleh diukur melalui banyak dan panjangnya amal yang dikerjakan.

Perkara islam boleh dilebih dan boleh dikurangkan, mengikut kemampuan.  Seumpama memperbanyak dan memperpanjangkan ibadat melalui sembahyang, puasa, haji, zikir dan sebagainya.  Perkara-perkara ibadat seperti di atas, adalah bagi menggambarkan kelebihan islam pada pandangan mata zahir dan kepada mata dunia.  Manakala islam pada pandangan Allah, bukan terletak pada banyak atau lebihnya ibadah, Islam pada Allah itu, terletak pada roh ibadah (roh rukun islam).

Bagi menggambarkan yang kita ini islam, ianya boleh diperlihat melalui memperbanyakkan ibadah seumpama memakai songkok, ketayap, jubah, selalu menggemgam buah tasbih, mulut tidak henti mengucap zikir, selalu ke mesjid dan sebagainya.  Dari sudut pandangan zahir, islam itu boleh dibuat-buat. Di ukur mulalui beberapa banyak ibadah yang mampu dan yang terdaya kita kerjakan.  Manakala bagi Allah, islam itu bukan terletak pada kuantiti ibadat.  Yang diambil kira oleh Allah itu adalah kualiti hatinya.

Perkara islam itu, boleh dipamer pada tanda nama, boleh diperlihat melalui cara berpakaian.  Dengan melihat Abdullah pada tanda nama, kita sudah tahu bahawa, ia seorang islam.  Dengan mempamerkan cara berpakaian atau ibadah sahaja, sudah cukup menggambarkan kita seorang islam.  Inilah cara islam menzahirkan keislamannya, melalui rukun islam yang lima, Sesungguhnya Allah tidak memandang di atas rupa atau kelakuan zahir seseorang.

Manakala islam yang sebenar itu, bukan boleh disukat dan bukan boleh diukur melalui banyaknya ibadat.  Bukan terletak pada banyaknya puasa, zikir atau sembahyang.  Kebenaran islam itu, terletak pada kefahaman dan kesedaran dalam roh rukun islam (roh syahadah, roh sembahyang, roh puasa, roh zakat dan roh haji).

Islam yang sebenar, tidak dapat disukat dan diukur oleh akal manusia,  hanya sukatan Allah sahaja, yang dapat mengukurnya, melalui cermin hati yang makrifat kepadaNya.  Pekerjaan ibadah di dslam islam itu, tidak untuk dipertontonkan kepada khalayak ramai.  Keislaman, keimanan dan ketaatan seseorang kepada Allah itu, biarlah Allah sahaja yang timbang, nilai dan hanya Allah sahaja yang tahu.  Malaikat sekalipun, tidak dapat untuk mengukur keislaman sebenar seseorang, apa lagi manusia biasa seumpama kita.

Islam yang sebenar itu, adalah islam yang menjangkaui sempadan rukun dan melewati sempadan syarat.  Islam sebenar bukan sahaja dengan cara mengerjakan perkara-perkara rukun yang zahir semata-mata,  tanpa disertai roh rukun islam yang terkandung di dalamnya.  Benar atau tidaknya islam itu, bergantung kepada roh rukun islam, bukannya bergantung kepada perkara rukun islam yang lima.

Benar atau tidak dan sah atau batalnya islam yang kita anuti itu, bergantung kepada roh rukun islam itu sendiri.  Sesempurna mana pun roh rukun islam itu, jika tidak bermula dengan mengenal Allah, ianya sama sekali tidak akan diterima Allah.  Itulah makanya bermulanya agama itu hendaklah terlebih dahulu mengenal Allah, selepas mengenal Allah dalam agama, barulah dikatakan kita itu islam, selepas islam, barulah boleh dimasuk iman ke dalam dada.

Firman Allah :-

5.Surah Al-Mā'idah (Verse 3)
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًاۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Diharamkan kepada kamu (memakan) bangkai (binatang yang tidak disembelih), dan
darah (yang keluar mengalir), dan daging babi (termasuk semuanya), danbinatang-binatang yang disembelih kerana yang lain dari Allah, dan yang mati tercekik, dan yang mati dipukul, dan yang mati jatuh dari tempat yang tinggi, dan yang mati ditanduk, dan yang mati dimakan binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih (sebelum habis nyawanya), dan yang disembelih atas nama berhala; dan (diharamkan juga) kamumerenung
nasib dengan undi batang-batang anak panah. Yang demikian itu adalah perbuatan fasik. Pada hari ini, orang-orang kafir telah putus asa (daripada memesongkan kamu) dari ugama kamu (setelah mereka melihat perkembangan Islam dan umatnya). Sebab itu janganlah kamu takut dan
gentar kepada mereka, sebaliknya hendaklah kamu takut dan gentar
kepadaKu. Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu ugama kamu, dan Aku telah cukupkan nikmatKu kepada kamu, dan Aku telah redakan Islam itu menjadi ugama untuk kamu. Maka sesiapa yang terpaksa kerana kelaparan (memakan benda-benda yang diharamkan) sedang ia tidak
cenderung hendak melakukan dosa (maka bolehlah ia memakan nya), kerana sesungguh nya Allah maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.

Ilmu Islam melalui rukun Islam yang lima itu, hanya sekadar menggambarkan perkara-perkara rukun asas yang zahir sahaja.  Manakala roh Islam yang sebenar itu, ada tersembunyi disebalik rukun yang lima,  yang hanya dapat dizahirkan melalui ilmu makrifat, Dengan hanya mengerjakan rukun Islam yang lima, belum cukup sempurna, bagi menggambarkan Islamnya seseorang, tanpa disertai roh rukun Islam.  Islam bukan sekadar belajar rukun yang tertulis dan yang tersurat sahaja, Islam mewajibkan kita belajar perkara rahsia yang tersirat disebaliknya.

Kebenaran, kesucian, kesempurnaan, kebaikan dan selamatnya Islam itu, terletak kepada mengenal Allah (makrifat) melalui roh rukun Islam.  Disebalik syahadah, sembahyang, puasa, zakat dan haji itu, terdapatnya roh disebaliknya.  Seumpama buah kelapa, disebalik kulit kelapa itu terdapat isinya. Begitu juga dengan rukun islam, kebenaran islam itu terletak kepada isinya bukan pada kulitnya.  Pelajari dan tuntutlah rukun Islam itu, sehingga sampai kepada tahap isinya (hakikatnya).

Bagaimana Mengenal Allah Melalui Roh Rukun Islam Mengikut Ilmu Makrifat ?

Mengenal Allah melalui roh rukun Islam itu, adalah dengan cara mengenal roh syahadah, roh sembahyang, dua kalimah syahadah (rukun Islam yang pertama), ia bukan sahaja terletak pada pergerakkan kedua bibir atau bunyi suara yang besar dari halkum.  Roh atau jiwa Islam itu, terkandung dan tersirat disebalik ucapan dan tersirat disebalik pergerakkan bibir, iaitu dengan mengetahui maksudnya yang tersirat di sebalik lafaz.  Dengan memahami maksud kalimah nafi di dalam perkataan (لا), memahami kalimah isbat dalam perkataan (اله), memahami kalimah sabit dalam perkataan (الا) dan kalimah (الله).  Jangan hanya sekadar tahu sebut atau lafaz sahaja, tanpa mengetahui buah butir, hujung pangkal dan tanpa mengetahui roh atau jiwa syahadah itu sendiri.  Untuk menghayati roh kalimah syahadah, kita hendaklah memahami sifat 20. Seumpama dalam kalimah nafi (لا) ada mengandungi sifat 20 yang bernama wujud dan seterusnya sila rujuk dalam artikel yang bertajuk sifat dua puluh dan dua kalimah syahadah.

Begitu juga halnya dalam ibadah sembahyang (rukun islam kedua). Roh sembahyang itu, terkandung didalam perkara khusyuk dan zuk.  Untuk mencapai rasa kusyuk dan zuk dalam sembahyang, kita hendaklah terlebih dahulu memperzahirkan wajah Allah.  Selain kita berdiri kiam (sebelum bertakbir), hendaklah kita nampak wajah Allah terlebih dahulu dengan nyata, terang dan jelas, barulah boleh kita angkat anggota tangan untuk bertakbir.  Bertakbir pula, bukan sahaja dengan anggota tangan zahir, ianya juga perlu diangkat beserta dengan anggota tangan yang batin, iaitu beserta dengan roh atau jiwa sembahyang itu sendiri.  Jika kita tidak mengenal anggota batin (tidak mengenal roh), bagaimana hendak membawanya berserta kita?.  Untuk mendapat roh sembahyang (khusyuk dan zuk), hendaklah kita mengenal roh terlebih dahulu.

Roh Islam itu berada di dalam rukun puasa.  Roh rukun puasa pula berada di dalam hati (roh) yang berpuasa.  Puasa bukan sahaja dengan cara menahan diri dari makan dan minum.  Menahan anggota zahir dari makan dan minum itu, adalah termasuk sebahagian kecil dari puasa, manakala sebahagian besar dari puasa itu, adalah terletak pada puasa batin (puasa hati atau roh). Puasa batin itu, adalah dengan menahan jiwa (roh) dari terpikat, terpaut atau terikat kepada dunia. Hati kita jangan sampai terhenti kepada kecantikkan perempuan, kekayaan harta, kebesaran pangkat, keangkuhan diri, kelazatan makanan, kemewahan hidup dan beramal pula jangan terhenti kepada ganjaran pahala atau balasan syurga.  Inilah diantara roh puasa yang harus menyertai puasa zahir.

Roh zakat pula, bukan sahaja terletak pada ukuran pengorbanan dalam bentuk harta benda atau berupa wang ringgit sahaja.  Roh zakat yang sebenar itu, adalah terletak kepada keikhlasan pengorbanan anggota tangan dalam menolong orang, keikhlasan anggota kaki dalam keluar mencari rezeki, keikhlasan anggota mulut dalam menasihati dan mengajar ilmu.  Keikhlasan menghulur bantuan kepada yang memerlukan, tanpa mengharap balasan.  Malahan menolong anjing tersepit dan membuang duri dijalanan, adalah juga dikira zakat anggota.  Zakat menurut ilmu makrifah itu, adalah membawa dan mengheret anggota zahir supaya turut serta bersama-sama dengan anggota batin dalam menunaikan taat, patuh, taqwa, rajin beribadah dan pengirbanan jiwa kepada Allah Ta'ala.

Begitu juga dalam ibadah haji (rukun islam kelima). Roh islam di dalam rukun haji itu, adalah berada pada roh haji itu sendiri.  Dengan cara pergi ke Tanah suci Mekah, kita telah diiktiraf oleh mata dunia sebagai seorang yang bertaraf haji.

Menurut hukum syarak dan ilmu syariat, ianya telah diiktiraf telah menunaikan rukun islam yang kelima (haji).  Jika ianya sekadar memenuhi syarat dengan menunaikan rukun semara-mata tanpa disertai roh haji, ianya tidak bermakna dan tidak membawa erti pada islam.  Islam atau tidaknya kita itu, bukan bergantung kepada menunaikan rukun atau syaratnya, tetapi ianya bergantung kepada menunaikan roh rukun dan roh syarat itu sendiri.  Haji yang sebenar mengikut suluhan ilmu makrifat itu, selain tujuan beribadah kepada Allah, ianya adalah bertujuan melontar, menjual, membakar dan membuang sifat mazmumah (sifat buruk), dengan menggantikannya dengan sifat mahmudah (sifat terpuji).

Apalah erti, makna, faedah dan menafaatnya kita menunaikan haji ke tanah suci Mekah, jika baliknya dari tanah suci, kita masih berperangai jahat dan berkelakuan buruk, sebagaimana sebelum kita ke Tanah suci.  Ukuran haji sedemikian, adalah haji yang tidak ada roh, yang tidak ada beza diantara pergi dengan tidaknya.  Haji yang berserta roh itu, adalah haji yang kesucian hatinya, seumpama kapas putih dan seumpama bayi yang baru lahir.

Tahap rukun islam terletak kepada menunaikan perkara rukun dan syarat, manakala tahap roh Islam itu, adalah terletak kepada menunaikan roh rukun dan roh syarat. Roh kepada syarat dan rukun itu, terletak kepada perkara Iman, Islam tanpa iman adalah Islam yang tidak ada roh. Mengenal Allah melalui Islam itu, adalah mengenal Allah melalui roh rukun.  Setelah mengenal roh rukun, barulah kita itu dianggap benar-benar islam dan benar-benar ada roh Islam.  Mengenal Allah melalui Islam mengikut pandangan ilmu makrifat itu, adalah dengan cara mempelajari ilmu roh (roh rukun islam) dan mengerjakan segala rukun Islam dalam beribadah kepada Allah, disertai dengan roh.

Sunday, June 19, 2016

ZIKIR SYARIAT,TAREKAT,HAKEKAT DAN MAKRIFAT

Tema pada saat ini yg saya mau uraikan adalah SANGAT2 RAHASIA, Beruntunglah, Berbahagialah & Bersyukurlah kpd ALLAH SWT, Karena penjelasannya TIDAK ADA DI BUKU2 LAINNYA, Dan ilmu2 AgamaNYA ALLAH SWT  tidak mudah ditemukan & tidak sebanding dengan harta & Material yang ada di muka bumi ini, maka tunduk sujud syukurlah KepadaNYA semoga penjelasan ini menjadi HIDAYAH bagi anda,……..AMIN
ini adalah kekuatan cahaya Dzikir yg ada pada diri manusia dgn 4 tingkatan ingatan fokus pada ALLAH SWT Sang Maha Bercahaya.
Makin dalam & fana (hampa) suatu fokus dzikir maka makin terlenalah Sang Hamba oleh fenomena kegaiban alam Nur Ilahiah. karena jika ingin mengenali ALLAH pahamilah tentang Gaib sesungguhnya ALLAH pun sifatNYA GAIB & Perkenalanmu KepadaNYA Takkkan habis sampai seumur hidupmu di dunia ini.
Seorang Hamba terkadang tidak menyadari bahwa ia sebenarnya masih di dunia sehingga menerawang melintasi alam kegaiban nur Ilahiah yang tak ada batas akhirnya memerlukankan power energi cahaya dzikir yg kuat.
Jika sang Hamba berfikir bijak ia pasti kembali ke dunia ibarat orang yang lagi menyelam melihat cakrawala keindahan bawah laut tidak terlalu lama lalu ia kembali ke permukaaan dasar laut untuk persiapan oksigennya kembali.
Begitulah tehnik berzikir yang bijaksana saudara……………………………
Ketahuilah Brothers  secara realita banyak saudara2 kita yang ERROR oleh fenomena alam kegaiban ALLAH SWT ketika mengosongkan pikiran &  masuk dalam alam kefanaan (hampa) melalui dzikir 4 tingkatan Syariat-Tarekat-Hakikat-Ma’rifat.
Padahal kalau ditelaah secara hakikat Alam fenomena visual kegaiban ALLAH SWT Takkan Habis oleh masa, batas, ruang & waktu ibaratnya kalau menghitung ilmu2-NYA ALLAH SWT takkan habis biarpun laut dijadikan tinta untuk menulis ayat2 ilmu ALLAH SWT Yang Maha Luas PengetahuanNYA Di Alam Jagat Raya (Q.s Al Kahfi : 109). Pohon dijadikan pena utk menulis ilmu2 Allah takkan pernah habis ilmu-Nya (Lukman:27)
Berikut ini adalah tuntunan2 dzikir:
Dzikir Syariat : “La Ilaha Illallah” diucapkan berulang2 dgn lisan sampai masuk kedalam hati sehingga lisan/mulut tak berucap lagi, rahasia dzikir ini terdiri dari 12 huruf yg sama maknanya dengan Waktu 12 jam, dzikir ini selalu dikumandangkan oleh para malaikat bumi (Malaikatul Ahyar) ketika ALLAH SWT menciptakan setiap makhlukNYA di muka bumi.
Dzikir Tarekat : “ALLAH”ALLAH”ALLAH” diucapkan berulang2 di dalam hati saja dengan pengosongan pikiran fana (hampa) lalu fokus pada nama tadi sehingga nama ALLAH tadi membuat & menciptakan alam bayangan hidup  didepan mata anda sendiri, jangan kaget & takut oleh fenomena tersebut karena para jin syetan selalu mengintai anda tetapi berlindunglah Kepada ALLAH SWT yang Maha Menjaga Orang Beriman dgn ayat & doa : audzu billahi minas syathanir rajim…………… La ilaha illallah anta subhanaka inni kuntu minaz zhalimin……….lalu lafazkan… ALLAHU SALAMUN HAFIZHUN WALIYYUN WA MUHAIMIN ( Allah Yang Maha sejahtera, Maha Memelihara, Maha Melindungi lagi Maha Menjaga Hambanya yg beriman).
Dzikir Hakikat : “HU”HU”HU (DIA ALLAH) diucapkan dalam hati saja dengan keadaan fana (hampa) melalui perantaraan tarikan Nafas ke dalam sampai ke perut, usahakan perut tetap keras biarpun nafas telah keluar, dalam bahasa ilmu tenaga dalam ini adalah metode pemusatan power lahiriah dari perut, dalam istilah cina yin & yang ini adalah penyembuhan/pengobatan pada diri secara bathiniah dan kesemuanya itu benar adanya karena pusat perut adalah sumber daya energi kekuatan manusia secara lahiriah & bathiniah serta secara hakikat dzikir”HU” sebenarnaya tempatnya pada pusat perut dengan perantaraan cahaya nafas yg sangat berharga pada manusia.
Dzikir Ma’rifat : ” HU”AH”-“HU”AH”-HU”AH” atau HU-WAH” (Dia ALLAH Bersamaku”) sebenarnya bunyi dzikir ini sudah perpaduan antara hakikat & ma’rifat, dzikir tersebut dilantunkan dalam hati saja dengan gerakan nafas “HU” masuk kedalam “AH” keluar nafas, pada para sufi (wali Allah) ini adalah dzikir kenikmatan, kecintaan ( Mahabbatullah) yang sangat luas faedah hidayahnya & karomahnya sehinngga dapat menyingkap tabir rahasia2 Allah Swt pada gerakan kehidupan ini.
Dzikir rahasia  ma’rifat : ” Hu”wallahu Ahad (Allah Maha Tunggal)
Pada penjelasan diatas tentang dzikir sebenarnya kalau bicara tentang tingkatan pemahaman Agama dengan ilmun2NYA ALLAH SWT terdiri 7 fase tingkatan  :
Syariat : mentaati segala perintahnya dan menjauhi segala larangan-NYA
Tarekat : Jalan spritual (kebatinan) menuju kepada-NYA
Hakikat : Mengetahui arti makna sesuatu pada kehidupan TAPI hamba itu diam pada orang awam KARENA itulah ikatan janjinya kepada ALLAH SWT.
Ma’rifat : Mengetahui pengenalan dirinya kepada ALLAH SWT.   seperti yang  dikatakan para Ahli Sufi Waliyullah “Man Arafa Nafsahu Fakade Arafa Rabbahu” Brgsiapa mengenal dirinya, niscaya pasti mengenali Tuhan-Nya,  jadi maknanya kenalilah dirimu sendiri sebelum mengenali ALLAH setelah engkau Mengenali-Nya maka bersatulah wujud hakikimu BERSAMANYA… “Subhanallah Wabihamdihi”.
Musyahadah : Penyaksian fenomena kegaiban NUR ALLAH SWT Di langit & di bumi, ia menyaksikan-NYA bersama para wali2 ALLAH & nabi2 ALLAH & Khususnya Baginda Rasulullah Nabi Muhammad SAW
Mukasyaf : Terbukanya Hijab Tabir rahasia2 Allah seluruhnya di langit & di bumi, para mukasyaf saat ini hanya terdiri dari 111 orang saja di  seluruh  dunia & setiap ada wafat ada yang menggantikan Wali tersebut, jadi  berbahagialah hamba yang telah menemukannya & menemuinya. karena mereka biasanya tidak terkenal dan tidak diketahui, tidak sama dgn ustaz2 yg terkenal.
Mahabbah : Kecintaan kepada ALLAH SWT dengan penglihatan pada setiap gerakan nafas & hidupnya ada  kasih sayang TuhanNYA Yang Maha Pemberi Nan Maha pemurah, tingkatan ini hanya ALLAH SWT saja yang tahu tentang kedudukan hambanya, karena Maqom Kecintaan sendiri itu ada pada ke ikhlasan, kesabaran, istiqomah, Tawakkal, Keyakinan, Ketakwaan, tapi ketahuilah saudara Wali-NYA saat ini yang mencapai tingkatan MAHABBAH cuma berjumlah 11(sebelas) orang saja Di dunia ini & setiap ada yg kembali kehadirat-NYA akan ada yg menggantikannya (sama para Mukasyaf), maka sangat Berbahagialah di dunia & Akherat orang2 yang telah menjumpainya.

SIAPAKAH MUHAMMAD ITU


HAKIKAT NUR MUHAMMAD.

Alimul Fadhil H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari (Guru Sekumpul) pernah menyinggung dan menguraikan pembahasan tentang salah satu tema yang selalu aktual diperbincangkan dalam dunia tasawuf dan pencerahan. Apakah yang dimaksud dengan Nur Muhammad tersebut?
Dalam kitab Hikayat Nur Muhammad diceritakan bahwa tubuh manusia (anak Adam) mengandungi tiga unsur, yakni jasad, hati dan roh. Di dalam roh terdapat hakikat, di dalam hakikat tersimpan rahasia, rahasia itulah yang dinamakan makrifah Allah. Di dalam makrifah pula ada zat yang tidak menyerupai sesuatu pun.
Rahasia atau makrifah Allah ini dinamakan Insan Kamil. Insan Kamil dijadikan dari Nur yang melimpah dari zat Haqq Ta’ala.
Menurut riwayat, sumber cerita tentang kejadian Nur Muhammad ini bermula dari biografi Nabi Muhammad yang ditulis oleh Ibnu Ishaq (sejarawan Islam). Dalam biografi tersebut, Ibnu Ishaq ada mencatat riwayat yang menyatakan bahwa Allah telah menciptakan Nur Muhammad dan Nur itu telah diwarisi melalui generasi nabi-nabi hingga ia sampai kepada Abdullah bin Abdul Muthalib dan turun kepada Nabi Muhammad Saw.
Kemudian terdapat sejumlah hadis yang menerangkan tentang Nur tersebut, antaranya, “sesungguhnya yang mula-mula dijadikan oleh Allah adalah cahaya-ku (Nur Muhammad)………”.
Beragam pandangan terhadap hadis ini, ada yang menyatakan maudhu’ (tertolak), dhaif (lemah), bersumber dari falsafah Yunani, tetapi ada pula yang menyatakan bahwa riwayat tersebut boleh diterima karenanya sanadnya bersambung.
Hadis tersebut cukup panjang matannya dan diringkas sebagai berikut: “Dan telah meriwayatkan oleh Abdul Razak dengan sanadnya dari Jabir bin Abdullah ra, beliau berkata: “Ya Rasulullah, demi bapaku, engkau dan ibuku, khabarkanlah daku berkenaan awal-awal sesuatu yang Allah telah ciptakan sebelum sesuatu! Bersabda Nabi Saw: “Ya Jabir, sesungguhnya Allah menciptakan sebelum sesuatu, Nur Nabi-mu daripada Nur-Nya’.
Maka jadilah Nur tersebut berkeliling dengan Qudrat-Nya sekira-kira yang dihendaki Allah. Padahal tiada pada waktu itu lagi sesuatu pun; tidak ada lauh mahfuzh, qalam, sorga, neraka, Malaikat, langit, bumi, matahari, bulan, jin dan manusia; tiada apa-apa yang diciptakan, kecuali Nur ini.
Dari nur inilah kemudian diciptakan-Nya qalam, lauh mahfuzh dan Arsy. Allah kemudian memerintahkan qalam untuk menulis, dan qalam bertanya, “Ya Allah, apa yang harus saya tulis?” Allah berfirman: “Tulislah La ilaha illallah Muhammad Rasulullah.” Atas perintah itu qalam berseru: “Oh, betapa sebuah nama yang indah dan agung Muhammad itu, bahwa dia disebut bersama Asma-Mu yang Suci, ya Allah.” Allah kemudian berkata, “Wahai qalam, jagalah kelakuanmu ! Nama ini adalah nama kekasih-Ku, dari Nur-nya Aku menciptakan arsy, qalam dan lauh mahfuzh; kamu, juga diciptakan dari Nur-nya. Jika bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakan apa pun.”
Ketika Allah telah mengatakan kalimat tersebut, qalam itu terbelah dua karena takutnya akan Allah dan tempat dari mana kata-katanya tadi keluar menjadi tertutup, sehingga sampai dengan hari ini ujung nya tetap terbelah dua dan tersumbat, sehingga dia tidak menulis, sebagai tanda dari rahasia ilahiah yang agung.
Maka, jangan seorangpun gagal dalam memuliakan dan menghormati Nabi Suci, atau menjadi lalai dalam mengikuti contohnya (Nabi) yang cemerlang, atau membangkang dan meninggalkan kebiasaan mulia yang diajarkannya kepada kita.………dan seterusnya.
Bagaimana penjelasan Guru Sekumpul tentang Nur Muhammad tersebut? Secara ringkas penjelasan beliau sebagaimana konten materi pengajian yang bertemakan tentang ‘Kesempurnaan’ (penjelasan ini bahkan beliau ulang-ulang tidak kurang dari tiga kali) boleh diringkaskan sebagai berikut:
Beliau memulai penjelasannya dengan ungkapan yang sangat dikenal dalam dunia tasawuf, di mana untuk mengenal Tuhan seseorang harus terlebih dahulu mengenal akan dirinya.
Maksudnya, untuk sampai kepada pengenalan terhadap Tuhan, menurut Guru Sekumpul haruslah terlebih dahulu dipahami dua hal. Pertama, ia harus terlebih dahulu mengenal asal mula akan kejadian dirinya sendiri, dari mana, di mana dan bagaimana ia dijadikan? Kedua, ia harus terlebih dahulu mengetahui apa sesuatu yang mula-mula dijadikan oleh Allah Swt. Kedua perkara di atas menjadi prasyarat kesempurnaan bagi para penuntut (salik) dalam mengenal (makrifah) kepada Allah.
Adapun yang mula-mula dijadikan oleh Allah adalah Nur Muhammad Saw yang kemudiannya dari Nur Muhammad inilah Allah jadikan roh dan jasad alam semesta.
Bermula dari Nur Muhammad inilah maka sekalian roh (dan roh manusia) diciptakan Allah sedangkan jasad manusia diciptakan mengikut kepada dan dari jasad Nabi Adam as. Karena itu, Nabi Muhammad Saw adalah ‘nenek moyang roh’ sedangkan Nabi Adam as adalah ‘nenek moyang jasad’.
Hakikat dari penciptaan Adam as sendiri adalah berasal dari tanah (Nur Turab), tanah berasal dari air, air berasal dari angin, angin berasal dari api, dan api itu sendiri berasal dari Nur Muhammad.
Sehingga pada prinsipnya roh manusia diciptakan berasal dari Nur Muhammad dan jasad atau tubuh manusia pun hakikatnya berasal dari Nur Muhammad. Jadilah kemudian ‘cahaya di atas cahaya’ (QS. An-Nuur 35), di mana roh yang mengandung Nur Muhammad ditiupkan kepada jasad yang juga mengandung Nur Muhammad.
Bertemu dan meleburlah kemudian roh dan jasad yang berisikan Nur Muhammad ke dalam hakikat Nur Muhammad yang sebenarnya. Tersebab bersumber pada satu wujud dan nama yang sama, maka roh dan jasad tersebut haruslah disatukan dengan mesra menuju kepada pengenalan Yang Maha Mutlak, Zat Wajibul Wujud yang memberi cahaya kepada langit dan bumi, dan yang semula menciptakan, sebagaimana mesranya hubungan antara air dan tumbuhan, di mana ada air di situ ada tumbuhan, dan dengan airlah segala makhluk dihidupkan (QS. Al-Anbiya 30).
Pengenalan terhadap hakikat Nur Muhammad inilah maqam atau stasiun yang terakhir dari pencarian akan makrifah kepada Allah, Martabat Nur Muhammad inilah martabat yang paling tinggi, dan pengenalan akan Nur Muhammad inilah yang menjadi ‘kesempurnaan ilmu atau ilmu yang sempurna’.
Menarik untuk mengkaji ulang penjelasan Guru Sekumpul di atas dengan membandingkannya kepada penjelasan tokoh-tokoh tasawuf yang juga membahas dan menyinggung tentang  ini.
Al-Hallaj yang mencetuskan teori hulul misalnya menyatakan bahwa Nur Muhammad mempunyai dua bentuk, yakni Nabi Muhammad yang dilahirkan dan menjadi cahaya rahmat bagi alam “tidaklah engkau diutus wahai (Muhammad Rasulullah Saw) melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam” (martabat al-a’yanu’l Kharijiyyah) dan yang berbentuk Nur (martabat a’yanu’l Thabitah).
Nur Muhammad adalah cahaya semula yang melewati dari Nabi Adam ke nabi yang lain bahkan berlanjut kepada para imam maupun wali; cahaya melindungi mereka dari perbuatan dosa (maksum); dan mengaruniai mereka dengan pengetahuan tentang rahasia-rahasia Illahi.
Allah telah menciptakan Nur Muhammad jauh sebelum diciptakan Adam as. Lalu, Allah menunjukkan kepada para malaikat dan makhluk lainnya, bahwa: “Inilah makhluk Allah yang paling mulia”. Oleh itu, harus dibedakan antara konsep Nur (Muhammad) sebagai manusia biasa (seorang Nabi) dan Nur Muhammad secara dimensi spiritual yang tidak dapat digambarkan dalam dimensi fisik dan realiti.
Menurut sufi, Muhyiddin Ibn Arabi, Nur Muhammad sebagai prinsip aktif di dalam semua pewahyuan dan inspirasi. Melalui Nur ini pengetahuan yang kudus itu diturunkan kepada semua nabi, tetapi hanya kepada Ruh Muhammad saja diberikan jawami al-qalim (firman universal).
Sedangkan menurut pencetus teori ‘insan kamil’, Abdul Karim bin Ibrahim al-Jili (1365-1428 M) dalam karyanya, al-Insan al-Kamil fî Ma’rifat al-Awakhir wa al-Awa’il (Manusia Sempurna dalam Mengetahui Allah Sejak Awal hingga Akhirnya), menyatakan bahwa Nur Muhammad memiliki banyak nama sebanyak aspek yang dimilikinya. Ia disebut ruh dan malak apabila dikaitkan dengan ketinggiannya.
Tidak ada kekuasaan makhluk yang melebihinya, semuanya tunduk mengitarinya, karena ia kutub dari segenap malak. Ia disebut al-Haqq al Makhluq bih, (al-Haqq sebagai alat pencipta), hanya Allah yang tahu hakikatnya secara pasti. Dia disebut al-Qalam al-A’la (pena tertinggi) dan al-Aql al-Awal (akal pertama) karena wadah pengetahuan Tuhan terhadap alam maujud, dan Tuhanlah yang menuangkan sebagian pengetahuannya kepada makhluk.
Adapun disebut al-Ruh al-Ilahi (ruh ketuhanan) karena ada kaitannya dengan ruh al-Quds (ruh Tuhan), al-Amin (ruh yang jujur) adalah karena ia adalah perbendaharaan ilmu tuhan dan dapat dipercayai-Nya. Oleh itu, menurut Al-Jili, lokus tajalli al-Haq yang paling sempurna adalah Nur Muhammad. Nur Muhammad ini telah ada sejak sebelum alam ini ada, ia bersifat qadim lagi azali. Nur Muhammad itu berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam berbagai bentuk para nabi, yakni Adam, Nuh, Ibrahim, Musa hingga dalam bentuk nabi penutup (khatamun nabiyyin), Muhammad Saw.
Banyak lagi penjelasan dan pembahasan tentang Nur Muhammad dimaksud. Karena, memang sejak awal kedatangan dan perkembangan Islam di ‘Bumi Nusantara’, wacana Nur Muhammad dalam berbagai konteksnya sehingga sekarang, telah menarik perhatian umat Islam. Hal ini paling tidak didukung oleh tiga faktor.
Pertama, terlihat dari banyaknya salinan yang beredar pada masa itu berkenaan dengan ‘Hikayat Nur Muhammad’ Misalnya, Hikayat Nur Muhammad naskah Betawi yang disalin pada tahun 1668 M oleh Ahmad Syamsuddin Syah. Menurut Ali Ahmad (2005) sehingga sekarang, sekurang-kurangnya terdapat tujuh versi Hikayat Nur Muhammad.
Kedua, apresiasi terhadap konsep Nur Muhammad telah mendorong lahirnya karya klasik ulama Nusantara yang secara khusus berisikan pembahasan tentang teori ini. Antaranya adalah kitab Asrar al-Insan fi Makrifah al-Ruh wa al-Rahman karya Nuruddin al-Raniri (Aceh), tiga kitab karangan Hamzah Fansuri (Barus-Aceh); Asrar al-‘Arifin, Syarab al-‘Asyiqin, dan al-Muntahi, serta Nur al-Daqa’iq oleh Syamsuddin al-Sumaterani (Pasai).
Dalam kitab Asrar al-Insan dijelaskan bahwa Allah menjadikan Nur Muhammad dari tajalli (manifestasi) sifat Jamal-Nya dan Jalal-Nya, maka jadilah Nur Muhammad itu khalifah di langit dan di bumi; Nur Muhammad adalah asal segala kejadian di langit dan di bumi. Di dalam kitab Asrar al-’Arifin dibincangkan teori wahdah al-wujud yang semula diperkenalkan oleh Abdullah Arif dalam Bahr al-Lahut dan Ibnu Arabi, kemudian dikembangkan lagi oleh Muhammad bin Fadhlullah al-Burhanpuri melalui teori Martabat Tujuh dalam kitab Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabi. Kemudian, dalam al-Muntahi, Hamzah menyatakan bahwa wujud itu satu yaitu wujud Allah yang mutlak. Wujud itu bertajalli dalam dua martabat; ahadiyah dan wahidiyah. Dalam kitab Nur al-Daqa’iq juga dibahas tentang wujudiyah dan martabat tujuh.
Variasi teori Nur Muhammad dalam bentuk martabat tujuh boleh didapati pembahasannya dalam beberapa kitab yang ditulis oleh ulama Melayu Nusantara, antaranya adalah dibahas dalam kitab Siyarus Salikin yang dikarang oleh Syekh Abdul Shamad al-Palimbani; kitab Manhalus Syafi (Uthman el-Muhammady, 2003) yang dikarang oleh Syekh Daud bin Abdullah al-Fathani; Pengenalan terhadap Ajaran Martabat Tujuh yang dikarang atau dinukilkan kepada Syekh Abdul Muhyi Pamijahan; dan kitab al-Durr al-Nafis yang di karang oleh Syekh Muhammad Nafis al-Banjari. Oleh itu, Syekh Muhammad Nafis al-Banjari dengan kitabnya Al-Durr al-Nafis ditegaskan oleh Wan Mohd Shagir Abdullah (2000) sebagai salah seorang ulama Banjar penganjur ajaran tasawuf Martabat Tujuh di Nusantara.
Dalam teori martabat tujuh dipahami bahwa dunia manusia merupakan dunia perubahan dan pergantian, tidak ada sesuatu yang tetap di dalamnya. Segalanya akan selalu berubah, memudar, dan setelah itu akan mati. Oleh karena itulah, manusia ingin berusaha mengungkap hakikat dirinya agar dapat hidup kekal seperti Yang Menciptakannya. Untuk mengungkap hakikat dirinya, manusia memerlukan seperangkat pengetahuan batin yang hanya dapat dilihat dengan mata hati yang ada dalam sanubarinya. Seperangkat pengetahuan yang dimaksud adalah ilmu ma‘rifatullah.
Ilmu ma’rifatullah merupakan suatu pengetahuan yang dapat dijadikan pedoman bagi manusia untuk mengenal dan mengetahui Allah. Ilmu ma‘rifatullah terbahagi menjadi dua macam, yaitu ilmu ‘makrifat tanzih’ (transeden) dan ‘ilmu makrifat tasybih’ (imanen). Tuhan menyatakan diri-Nya dalam Tujuh Martabat, yaitu martabat pertama disebut martabat tanzih (la ta‘ayyun atau martabat tidak nyata, tak terinderawi) dan martabat kedua sampai dengan martabat ketujuh disebut martabat tasybih (ta‘ayyun atau martabat nyata, terinderawi).
Yakni, martabat Ahadiyyah (ke-’ada’-an Zat yang Esa); martabat Ahadiyyah (ke-’ada’-an Zat yang Esa); martabat Wahidiyyah (ke-’ada’-an asma yang meliputi hakikat realitas keesaan); Keempat, martabat Alam Arwah; martabat Alam Mitsal; martabat Alam Ajsam (alam benda); dan martabat Alam Insan.
Ketujuh proses perwujudan di atas, keberadaannya terjadi bukan melalui penciptaan, tetapi melalui emanasi (pancaran). Untuk itulah, antara martabat tanzih (transenden atau la ta‘ayyun atau martabat tidak nyata) dengan martabat tasybih (imanen atau ta‘ayyun atau martabat nyata) secara lahiriah keduanya berbeda, tetapi pada hakikatnya keduanya sama.
Seorang Sâlik yang telah mengetahui kedua ilmu ma‘rifatullah, baik Ma‘rifah Tanzih (ilmu yang tak terinderawi) maupun Ma‘rifah Tasybih (ilmu yang terinderawi), ia akan sampai pada tataran tertinggi, yaitu tataran rasa bersatunya manusia dengan Tuhan atau dikenal dengan sebutan Wahdatul-Wujûd.
Uraian tersebut dapat dianalogikan dengan air laut dan ombak. Air laut dan ombak secara lahiriah merupakan dua hal yang berbeda, tetapi pada hakikatnya ombak itu berasal dari air laut sehingga keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisah.
Ketiga, di Nusantara, Hikayat Nur Muhammad merupakan teks yang  populer sekitar abad ke-14 M. Ini dibuktikan dengan tersebar luasnya kitab yang berjudul Tarjamah Maulid al-Mustafa bertahun 1351 M (Ali Ahmad, 2005), dan disinggungnya wacana ini dalam kitab Taj al-Muluk, Qishah al-Anbiya, Bustan al-Salatin, atau Hikayat Ali Hanafiah.
Membandingkan apa-apa yang digambarkan oleh Guru Sekumpul berkenaan dengan Nur Muhammad dengan uraian-uraian ulama terdahulu tampaknya tidak jauh berbeda sebagaimana pandangan umum para sufi dalam melihat Nur Muhammad sebagai yang terawal diciptakan dan kemudiannya menjadi sumber dari segala penciptaan.
Di samping itu, menurut Guru Sekumpul maqam Nur Muhammad adalah maqam paling tinggi dari pencarian dan pendakian sufi menuju makrifah kepada Allah, tiada lagi maqam atau stasiun paling tinggi sesudah ini. Kesimpulannya, berbahagialah orang-orang yang dapat menyandingkan penyatuan sumber asal mula penciptaannya dalam satu harmoni, yakni Nur Muhammad, sebab ia berada pada satu kedudukan yang tinggi dan terbukanya segala hijab yang membatasinya.
Penciptaan Ruh Nabi Muhammad SAW.
Saat Allah Subhanahu wa Ta’ala mengeluarkan keputusan Ilahiah untuk mewujudkan makhluq, Ia pun menciptakan Haqiqat Muhammadaniyyah (Realitas Muhammad –Nuur Muhammad) dari Cahaya-Nya. Ia Subhanahu wa Ta’ala kemudian menciptakan dari Haqiqat ini keseluruhan alam, baik alam atas maupun bawah. Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian memberitahu Muhammad akan Kenabiannya, sementara saat itu Adam masih belum berbentuk apa-apa kecuali berupa ruh dan badan. Kemudian darinya (dari Muhammad) keluar tercipta sumber-sumber dari ruh, yang membuat beliau lebih luhur dibandingkan seluruh makhluq ciptaan lainnya, dan menjadikannya pula ayah dari semua makhluq yang wujud.
Dalam Sahih Muslim, Nabi (SAW) bersabda bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menulis Taqdir seluruh makhluq lima puluh ribu tahun (dan tahun di sisi Allah adalah berbeda dari tahun manusia, peny.) sebelum Ia menciptakan Langit dan Bumi, dan `Arasy-Nya berada di atas Air, dan di antara hal-hal yang telah tertulis dalam ad-Dzikir, yang merupakan Umm al-Kitab (induk Kitab), adalah bahwa Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam adalah Penutup para Nabi. Al Irbadh ibn Sariya, berkata bahwa Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Menurut Allah, aku sudah menjadi Penutup Para Nabi, ketika Adam masih dalam bentuk tanah liat.”
Maysara al-Dhabbi (ra) berkata bahwa ia bertanya pada Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam, “Ya RasulAllah, kapankah Anda menjadi seorang Nabi?” Beliau sall-Allahu ‘alayhi wasallam menjawab, “Ketika Adam masih di antara ruh dan badannya.”
Suhail bin Salih Al-Hamadani berkata, “Aku bertanya pada Abu Ja’far Muhammad ibn `Ali radiy-Allahu ‘anhu, `Bagaimanakah Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam bisa mendahului nabi-nabi lain sedangkan beliau akan diutus paling akhir?” Abu Ja’far radiy-Allahu ‘anhu menjawab bahwa ketika Allah menciptakan anak-anak Adam (manusia) dan menyuruh mereka bersaksi tentang Diri-Nya (menjawab pertanyaan-Nya, `Bukankah Aku ini Tuhanmu?’), Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam-lah yang pertama menjawab `Ya!’ Karena itu, beliau mendahului seluruh nabi-nabi, sekalipun beliau diutus paling akhir.”
Al-Syaikh Taqiyu d-Diin Al-Subki mengomentari hadits ini dengan mengatakan bahwa karena Allah Ta’ala menciptakan arwah (jamak dari ruh) sebelum tubuh fisik, perkataan Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam “Aku adalah seorang Nabi,” ini mengacu pada ruh suci beliau, mengacu pada hakikat beliau; dan akal pikiran kita tak mampu memahami hakikat-hakikat ini. Tak seorang pun memahaminya kecuali Dia yang menciptakannya, dan mereka yang telah Allah dukung dengan Nur Ilahiah.
Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengaruniakan kenabian pada ruh Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam bahkan sebelum penciptaan Adam; yang Ia telah ciptakan ruh itu, dan Ia limpahkan barakah tak berhingga atas ciptaan ini, dengan menuliskan nama Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam pada `Arasy Ilahiah, dan memberitahu para Malaikat dan lainnya akan penghargaan-Nya yang tinggi bagi beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam). Dus, Haqiqat Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam telah wujud sejak saat itu, meski tubuh ragawinya baru diciptakan kemudian. Al Syi’bi meriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya, “Ya RasulAllah, kapankah Anda menjadi seorang Nabi?” Beliau menjawab, “ketika Adam masih di antara ruh dan badannya, ketika janji dibuat atasku.” Karena itulah, beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah yang pertama diciptakan di antara para Nabi, dan yang terakhir diutus.
Diriwayatkan bahwa Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah satu-satunya yang diciptakan keluar dari sulbi Adam sebelum ruh Adam ditiupkan pada badannya, karena beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah sebab dari diciptakannya manusia, beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah junjungan mereka, substansi mereka, ekstraksi mereka, dan mahkota dari kalung mereka.
`Ali ibn Abi Thalib karram-Allahu wajhahu dan Ibn `Abbas radiy-Allahu ‘anhu keduanya meriwayatkan bahwa Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Allah tak pernah mengutus seorang nabi, dari Adam dan seterusnya, melainkan sang Nabi itu harus melakukan perjanjian dengan-Nya berkenaan dengan Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam): seandainya Muhammad (SAW) diutus di masa hidup sang Nabi itu, maka ia harus beriman pada beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) dan mendukung beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), dan Nabi itu pun harus mengambil janji yang serupa dari ummatnya.
Diriwayatkan bahwa ketika Allah SWT menciptakan Nur Nabi kita Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam, Ia Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan padanya untuk memandang pada nur-nur dari Nabi-nabi lainnya. Cahaya beliau melingkupi cahaya mereka semua, dan Allah SWT membuat mereka berbicara, dan mereka pun berkata, “Wahai, Tuhan kami, siapakah yang meliputi diri kami dengan cahayanya?” Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab, “Ini adalah cahaya dari Muhammad ibn `Abdullah; jika kalian beriman padanya akan Kujadikan kalian sebagai nabi-nabi.” Mereka menjawab, “Kami beriman padanya dan pada kenabiannya.” Allah berfirman, “Apakah Aku menjadi saksimu?” Mereka menjawab, “Ya.” Allah berfirman, “Apakah kalian setuju, dan mengambil perjanjian dengan-Ku ini sebagai mengikat dirimu?” Mereka menjawab, “Kami setuju.” Allah berfirman, “Maka saksikanlah (hai para Nabi), dan Aku menjadi saksi (pula) bersamamu.”(QS 3:81).
Inilah makna dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: `Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hukmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’” (QS 3:81).
Syaikh Taqiyyud Diin al-Subki mengatakan, “Dalam ayat mulia ini, tampak jelas penghormatan kepada Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) dan pujian atas kemuliaannya. Ayat ini juga menunjukkan bahwa seandainya beliau diutus di zaman Nabi-nabi lain itu, maka risalah da’wah beliau pun harus diikuti oleh mereka. Karena itulah, kenabiannya dan risalahnya adalah universal dan umum bagi seluruh ciptaan dari masa Adam hingga hari Pembalasan, dan seluruh Nabi beserta ummat mereka adalah termasuk pula dalam ummat beliau sall-Allahu ‘alayhi wasallam. Jadi, sabda sayyidina Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), “Aku telah diutus bagi seluruh ummat manusia,” bukan hanya ditujukan bagi orang-orang di zaman beliau hingga Hari Pembalasan, tapi juga meliputi mereka yang hidup sebelumnya. Hal ini menjelaskan lebih jauh perkataan beliau, “Aku adalah seorang Nabi ketika Adam masih di antara ruh dan badannya.” Berpijak dari hal ini, Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah Nabi dari para nabi, sebagaimana telah pula jelas saat malam Isra’ Mi’raj, saat mana para Nabi melakukan salat berjama’ah di belakang beliau (yang bertindak selaku Imam). Keunggulan beliau ini akan menjadi jelas nanti di Akhirat, saat seluruh Nabi akan berkumpul di bawah bendera beliau.